Ten Rocks!

Top 10 dalam musik rock & metal….

Ten Killer Guitar Leads:

Killer Guitar Leads

Killer Guitar Leads

“The guitar is the only instrument with which you can be truly obscene.”, begitu gitaris Frank Zappa menjawab ketika ditanya tentang gitar. Saya menggemari instrumen gitar juga setelah melihat permaian seorang gitaris di sebuah video klip, yang akhirnya membuat saya ingin lebih dalam mempelajari seluk beluk bermain gitar, dengan otodidak tentunya. I can’t read music sheet to be honest. Tapi menurut saya, bermain gitar sangat mengandalkan feeling, walaupun memang tidak salah bahwa kita harus mengetahui juga teori dasar musik. Well, saya tidak akan terlalu masuk dalam ranah yang saya tidak terlalu expert di sana. Just listens to the voice in your head and let the fingers dance. Begitu pesan dari gitaris yang membuat saya ingin bermain gitar, Mr. Slash. Berikut ini sederetan gitaris dan teknik bermain gitarnya yang secara subyektif saya pilih, karena sangat memberi inspirasi dalam bermain gitar dan semoga tidak mengurangi rasa hormat saya kepada gitaris yang lain yang jauh lebih tasteful. Karena saya tidak menempatkan Jimi Hendrix, Frank Zappa, Eddie Van Halen, Randy Rhoads, Stevie Ray Vaughan, Steve Vai, Joe Satriani, Paul Gilbert, Jeff Beck, Eric Johnson, Eric Clapton, Ritchie Blackmore, Steve Morse, Steve Howe, Mark Knopfler, Allen Collins, Steve Hackett, Duane Allman, Angus Young, Dire Straits, atau shredder seperti Yngwie Johann Malmsteen, Buckethead, Bumblefoot, dll. Because I’m really not into them, as simple as that.

Use the word ‘rock’ no less than sixteen times in everything you write, rock, and don’t forget to rock.

1. Jimmy Page Kashmir / Stairway To Heaven

Jimmy Page

Jimmy Page

Musiknya megah, riff-nya keren sepanjang masa, menemukan beberapa perubahan tuning gitar, masterpiece petikan jari pada gitar akustik dan nuansa ambient yang dihasilkannya, Mr. Page bisa dibilang salah satu gitaris rock yang banyak menjadi panutan. Solo gitarnya di beberapa karya klasik menempatkan dirinya sebagai musisi genius secara komposisional dan improvisasional. Yang banyak menginspirasi saya tentang teknik dari James Patrick Page adalah teknik strumming yang dinamis dan beraneka ragam (baik dari aksen, strumming keras atau pelan), ditambah dengan tuning yang tidak standart baik untuk akustik maupun elektrik. Juga perpaduan antara single note, chords dan skipping strums.

Salah satunya adalah lagu “Kashmir” dengan tuning D A D G A D (D modal tuning). Sepertinya anda juga wajib menyimak aransemen baru dari “Kashmir” di album No Quarter: Jimmy Page and Robert Plant Unledded, dan memperhatikan bahwa solo gitarnya juga masih seperti ketika lagu ini pertama kali dimainkan secara live. Atau C A C G C E (i just called it Folk tuning) seperti pada lagu “Bron-Yr-Aur” dan lagu ‘Friends”, salah satu tuning favorit saya, setidaknya saya bisa memainkan tuning ini dengan baik. Yang agak repot memainkannya adalah D G D G B D (Open G), seperti pada lagu “Going To California” atau “That’s The Way”, atau D G C G C D (D Drop on 6th string) di lagu “Rain Song”, sekali lagi anda harus membuktikannya sendiri. Sangat menyenangkan! Sedangkan teknik solo Page, yang sangat terkenal adalah multi-hammer-on, untuk memainkan nada lebih cepat tanpa harus dibarengi dengan mempercepat gerakan tangan kanan (sweep picking). Petikan Page dalam “Stairway To Heaven” adalah salah satu contoh petikan arpeggio, dan menggunakan pentatonik A minor. Page banyak menggunakan nada pentatonik untuk solo-solonya, sedangkan untuk riff hard rock dia banyak memakai pentatonik mayor. Serta trademark Page sebagai icon Les Paul dan penggunaan gitar double-neck yang biasa dipakai ketika memainkan lagu “The Song Remains The Same”, “Gallows Pole” dan “Stairway To Heaven”.

Jimmy Page juga menggunakan banyak teknik-teknik keren, salah satunya adalah trick dengan menggunakan jarinya sebagai slide. Ide dasarnya adalah menggunakan tiga jarinya untuk menekan sebagian chords dan kemudian menggeser-geser sesuai chords yang dimainkan. Teknik ini dipakai salah satunya di lagu  “Whole Lotta Love.” Atau ketika dia memainkan violin bow, setiap kali ‘Dazed and Confused” berkumandang. Setidaknya dia mencoba menganggap gitar seperti sebuah biola, dan selama 45 menit dia memainkan violin bow untuk mengiringi rekan-rekannya. Quite good, and original!

“I think when you’re faced with a plight that’s inescapable, and there’s something you can do about it, you hope you can make a difference.”

-Jimmy Page-

2. Slash November Rain / Estranged

Slash

Slash

Apa yang membuat sounds gitar Slash terdengar unik? Teknik gitar Saul Hudson sangat terinspirasi oleh musik blues dipadu dengan gaya hard rock dan sedikit heavy metal akhir 70-an. Mulai dari Jimmy Page, Mick Taylor (The Rolling Stones), bahkan Eddie Van Halen, Joe Perry dan Jeff Beck. Slash adalah salah seorang gitaris otodidak. Dia mempelajari gitar dengan mendengarkan band-band favoritnya dan kemudian menirukannya. Well at least, I did that too. Untuk fingering aja dia bisa menghabiskan setengah hari alias 12 jam, dan lagu pertama yang dia pelajari adalah “Smoke on the Water” milik Deep Purple. Slash adalah seorang musisi yang menyukai berbagai aliran musik, disamping musik punk ala the Sex Pistols dan Fear, serta heavy metal ala Metallica dan Van Halen, dia juga menikmati musik Cat Stevens dan Joni Mitchell, dan pengaruh ini sangat kental pada beberapa solonya yang melodic, salah satunya “Sweet Child O’Mine” yang intronya diciptakan tidak sengaja. Seperti kebanyakan musisi lainnya, Slash juga menyukai musik klasik, khususnya komposisi karya Erik Satie.

Gaya permainannya berkisar seputar scale blues dan scale harmonic minor. Dia banyak bermain di scale pentatonik minor ketika sedang posisi nge-blues untuk solo dan kadang juga menggunakan scale Aeolian, Dorian, Mixolydian dan pentatonik mayor. Slash banyak memainkan bending pedal-steel dan menggunakan scale pentatonik mayor untuk menciptakan solo dengan nuansa folk/country. Sebagai contoh, bisa anda simak “Paradise City” atau “Coma”. Dan untuk rhythm, Slash banyak memakai power chords (chord dua nada yang dimainkan dalam interval nada 5), dengan memainkan riffs pada senar atas (2-1).

Teknik bermain Slash tidak jauh berbeda dari para pendahulunya di era 70-an, teknik vibrato cepat dan range lebih lebar. Dia lebih mengandalkan kecepatan tangan kirinya dengan teknik legato (pull-off dan hammer-on) untuk menghasilkan nada yang mengalir mulus. Tangan kanannya banyak melakukan muting (menahan senar), bisa anda perhatikan bahwa tangan kanannya banyak menempel pada bridge untuk membuat nada lebih terdengar perkusif / tertahan. “My basic roots come from a certain hard rock background.”

Teknik ini digunakan Slash untuk rhythm dan solo. Sebagai contoh, mungkin yang bisa membedakan dengan yang lain adalah intro “Welcome to the Jungle”. Pick dipegang diantara jari telunjuk dan jempol, dan kadang dia memetik senar dengan jari lainnya. Kecepatan dia memindahkan toggle pickup saat bermain juga membantunya menciptakan tone yang bervariasi. Slash menggunakan tone control seperti yang dipakai Eric Clapton, dan kadang dia juga memakai feedback untuk memperpanjang solo atau intronya. Selain teknik diatas, yang menarik dari seorang Slash adalah feel dalam memainkan gitar, teknik dasar memang perlu, tapi bermain dengan feel itu lain kasus. Melodius membius… seperti pada lagu “November Rain”, “Estranged”, “Don’t Cry”, “Knockin’ On Heaven’s Door” dan masih banyak lagi. Salah satu pesannya ketika ditanya soal mencari solo gitar sebuah lagu,

“Just follow the voices in your head, and let your fingers dance..”

-Slash-

3. Brian May Bohemian Rhapsody / Innuendo

Brian May

Brian May

Brian Harold May memperkenalkan banyak teknik studio dan efek untuk menciptakan salah satu sound gitar rock yang membedakan dengan yang lain.

Brian juga salah satu gitaris paling melodic di era musik modern ini. Gaya dan cita rasa melody yang keluar sangat inspiratif. Dan untuk memainkannya kita tidak memerlukan scale tertentu, paling scale E mayor, perhatikan dan rasakan, terus coba diikuti. As simple as that untuk melatihnya.

Brian banyak mengeksplore bermacam gaya bermain gitar pada saat menciptakan lagu-lagu Queen, seperti sweep picking (“Was It All Worth It”, “Chinese Torture”), tapping (“Bijou”,”It’s Late”,”Resurrection”, “Cyborg”, “Rain Must Fall”, “Business”, “China Belle”, “I Was Born To Love You”), slide guitar (“Drowse”, “Tie Your Mother Down”), lick seperti Hendrix (“Liar”, “Brighton Rock”), tape-delay (“Brighton Rock”, “White Man”) dan contoh-contoh melodic (“Bohemian Rhapsody”, “Killer Queen”, “These Are the Days of Our Lives”). Beberapa solo dan bagian orkestrasi ada juga yang dibuat oleh Freddie Mercury, yang kemudian meminta Brian memainkan dengan gitarnya seperti (“Bicycle Race”, “Lazing On A Sunday Afternoon”, “Killer Queen”, “Good Old Fashioned Lover Boy”). Brian juga mahir dalam memainkan akustik seperti “Love of My Life” dari album A Night at the Opera (1975), petikan solo dalam “White Queen”, strumming riang a la “’39” dan juga duet spanish guitar magic dalam lagu “Innuendo” bersama Steve Howe. Brian May banyak dikagumi karena gaya vibrato matinya, terutama seperti dalam solo “Bohemian Rhapsody” dan bending nada tinggi “Killer Queen”.

Ditambah juga dengan keunikan gitar rancangannya, The Red Special, yang menghasilkan suara efek yang tidak biasa dan asing. Contoh nyata, dia bisa menirukan suara orkestra di lagu “Procession”, dan dalam “Get Down, Make Love”, dia bisa menirukan suara synthesizer. Dalam lagu “Good Company”, dia memakai gitarnya untuk meniru suara trombone, piccolo dan beberapa instrumen yang dipakai untuk menunjukkan kesan jazzy.

Sebenarnya sebagian besar permainannya tidak sulit untuk diikuti, karena pelajaran terpenting dari seorang gitaris yang down-to-earth seperti Brian May adalah bermain rapi dan sabar! Note-per-note jelas. Dan satu lagi, Brian mengganggap gitar seperti sebuah orkestra, permainannya sangat simfonik, harmonisasi yang diciptakan, luar biasa.

“You need a feel for the sort of music it’s going to be playing. But then, you need a bit of every sort of skill.”

-Brian May-

4. Joe Perry Dream On (orchestral version) / Amazing

Joe Perry

Joe Perry

Gaya permainan gitaris Aerosmith, Anthony Joseph Perry ini bisa dibilang salah satu yang paling ‘aneh’ di kancah musik mainstream. campuran dari riffs yang mudah diingat dan sangat berkesan, bending blues, fill-in yang ringan, dan suara crunch yang masih ‘sopan’. Mungkin hanya Jimmy Page yang bisa mendekati gaya permainan dan sosok perawakannya. Memang agak susah mencari siapa gitaris panutan Joe, secara teknik, sound, sosok, gerak tubuh dan attitude. Aerosmith dan Joe Perry sudah menjadi inspirasi banyak band seperti Van Halen, Guns N’ Roses, Buckcherry, the Darkness, setiap band metal yang mencoba meniru gaya Steven Tyler dengan stand-mic nya.

Joe belajar gitar secara otodidak ketika dia masih remaja. Salah satu musisi favoritnya adalah Jeff Beck, gitaris The Yardbirds dan John Mayall. Banyak bisa ditemui bahwa fundamental riffs blues ala Aerosmith yang popular itu terinspirasi dari apresiasi Joe kepada Mayall. Joe menggunakan teknik yang dinamakan univibe effect. Teknik ini sangat cocok dengan musik Aerosmith yang memainkan rhythm dan lead sekaligus, serta tone clean dan distorsi hampir bersamaan. Univibe effect ini hampir seperti pedal untuk menciptakan tremolo atau vibrato. Untuk lebih mudahnya, ketika memainkan pattern chord A mayor, bunyi yang dihasilkan sangat jelas dan ‘sopan’ untuk konteks rhythm. Dan untuk solo, Joe lebih banyak memainkan ‘clean’ solo, scale blues, seperti outro solo di lagu “Amazing”, yang cukup memusingkan untuk dicari patternnya. Lain halnya solo di intro lagu “Dream On”, masih mudah untuk dicerna. Nah, salah satu keistimewaan Joe adalah solo yang unik ini rada susah dicari patternnya. Selain gitar, Joe juga memainkan Dulcimer.

“There are blues players. There are rockers. There are blues-rockers and then there are the hybrids that can easily skate between the labels. That’s Joe Perry. His humble and honest solo album proves that being one of the world’s best guitarists has not gone to his head.”

5. John Petrucci Spirit Carries On / Octavarium

John Peter Petrucci

John Peter Petrucci

Walaupun John Peter Petrucci bukan seorang gitaris ‘pure’ blues, namun dia memiliki kapasitas memainkan licks blues yang cukup menarik untuk disimak dan diikuti. Dasar dari blues ini yang banyak dipakai Petrucci terutama ketika bending sebuah nada untuk mencapai picth yang diinginkan. Bending mungkin salah satu favorit Petrucci ketika mempermainkan nada…

Sesuatu yang menarik dari teknik gitaris pengagum Steve Morse ini adalah apa yang disebut Cheating Arpeggios. Bunyinya seperti shredded arpeggio tapi tidak dilakukan seperti shredded arpeggio. Seperti pengembangan dari alternate picking tapi dilakukan dengan lebih cepat, saya lebih suka menyebutnya alternate sweep picking. Dan Petrucci adalah yang terbaik dalam teknik ini. Sebagai salah satu contoh adalah, alternate picking di lagu “In the Presence of Enemies Pt. 1” di bagian intro di menit ke 4 sekian, Petrucci mencoba alternate picking yang sederhana di D Dorian dengan ide dasar seperti perubahan beberapa nada minor, hanya ada variasi di time signature yang agak funky, kunci utamanya di perubahan time signature.

Teknik dasar gitaris Dream Theater ini sebenarnya sudah jelas dan gamblang kalau anda menonton DVD Rock Discipline, tentang beberapa latihan dasar untuk menguatkan jari-jari kedua tangan sebelum bermain gitar. Selain itu, latihan tersebut juga meningkatkan kecepatan jari tangan kiri serta gerakan tangan kanan. Dalam DVD tersebut, Petrucci juga memperkenalkan chords yang agak susah memang untuk diikuti, tapi akan sangat membantu kekuatan jari dan memancing inspirasi untuk menciptakan nada-nada ganjil.

Teknik lain yang diperkenalkan seperti “inside the string” picking, legato playing, sweep picking, arpeggiating chords, string skipping, fretting hand stretching, dan masih banyak lagi.

Rock Discipline sebenarnya tidak diperuntukkan untuk gitaris pemula seperti saya ini, karena banyak yang harus dipelajari dan dipahami terlebih dahulu sebelum menginjak kursus yang ada di DVD Rock Discipline. Rock Discipline lebih sebagai referensi yang sangat membantu untuk meningkatkan skill bermain gitar.

Teknik lain yang diperkenalkan Petrucci di bukunya yang lain adalah teknik Spanish Lap. Teknik dasarnya adalah menggunakan pattern tertentu untuk memainkan 16 note. Anda bisa memakai metronome, pilih tempo yang menurut anda nyaman, kemudian pada titik tertentu, secara selang seling, mainkan secara triplet dari 16 note tadi. Lakukan berulang-ulang sampai nada yang terdengar jelas tanpa terdengar ada kesalahan, kemudian mulai naikkan tempo metronome, dan lakukan terus sampai anda nyaman di tempo manapun. Secara tidak sadar anda sudah mencoba shredding. Keuntungannya adalah, kecepatan dan ketepatan tangan kanan dalam menghasilkan 16 note yang bersih tadi, dan dengan sendirinya tangan kiri akan terbiasa dengan gerakan cepat. Anda bisa mencoba pendekatan ini pada beberapa lagu Dream Theater, seperti “Voices” dan “Octavarium” dibagian ‘Razor’s Edge’.

“Don’t hide behind walls of distortion and sustain, unplugged yourself. If you can play a legato run without sustain, then you’re golden

-John Petrucci-

6. Michael Weikath Keeper of the Seven Keys / How Many Tears

Michael Weikath

Michael Weikath

Tidak ada teknik bermain gitar yang spesifik yang dimiliki oleh Michael Ingo Joachim Weikath, gitaris Helloween, tapi saya sangat mengagumi cara dia mensiasati teknik gitarnya untuk menciptakan lagu power metal dengan kecepatan tinggi, yang mungkin tidak akan terkejar oleh teknik bermain gitarnya sendiri. Weikath adalah musisi yang banyak terpengaruh oleh musik hard rock era 70-an. Lagu pertama yang dia pelajari adalah “While My Guitar Gently Weeps”, dan sejak saat itu dia banyak mendengarkan Eric Clapton, Jimi Hendrix, Ritchie Blackmore, Uli Roth, dan Van Halen. Weikath lah yang membawa sounds melodic dan lebih lembut ke dalam musik power metal yang diusung Helloween pada saat pertama kali dikenal. Weikath selalu menciptakan lagunya dari tempo yang sangat lambat, selambat ketika anda sedang memainkan lagu-lagu the Beatles. Anda bisa mencoba salah satu lagu The Beatles, percepat temponya dan kemudian nyanyikan seolah anda sedang memainkan lagu power metal. Atmosphere yang anda rasakan saat itu adalah hal yang sama ketika Weikath menciptakan masterpiece Helloween, seperti “How Many Tears”, “Eagle Fly Free”, bahkan “Keeper of the Seven Keys”. Secara umum, ini adalah sebuah kompromi dari sense melodic dan speed.

“I was really inspired by the song While my Guitar Gently Weeps and this is why I like to bend strings a lot even today.”

-Michael Weikath-

7. Scotti Hill Little Wing / Wasted Time

Scotti Hill

Scotti Hill

Kebanyakan lagu-lagu terkenal Skid Row adalah lagu bernada sedih, minor-feel, ballads, dan Scott Lawrence Mulvehill memainkannya dengan penuh emosi, feel, intensitas yang total, seperti salah satu solo gitar terbaiknya dalam lagu “Wasted Time”, bending, vibrato dan agressive phrasing, serta lambat laun menjadi lebih keras sampai akhir lagu. Petikan yang cepat dengan presisi yang sangat bagus, fairly choppy, emotional, tasty and intense, itulah Scotti.

Di dalam Skid Row, Scotti termasuk salah satu penulis lagu yang vital, walau dia lebih banyak menulis solo gitar. Permainan Scotti cukup menonjol di Skid Row walaupun disana juga ada Dave ‘Snake’ Sabo, yang lebih banyak bermain di wilayah rhythm dan fill-in solo.

Dalam wilayah rythym, lagu-lagu Skid Row banyak memakai clean rhythm dengan progresi chord yang lebih kompleks dari yang biasa seperti “Wasted Time”, juga terdengar aransemen yang keren dengan progresi diatas standart seperti “In a Darkened Room”. Untuk heavy-ass-Dino-riffs seperti lagu “Piece of Me”, “Youth  Gone Wild”, “Slave to the Grind”, “Monkey Bussines”, walau Scotti tidak ikut menulis riffs diatas, namun dia bisa memainkan dengan presisi yang sangat bagus. Salah satu favorit saya tentang Scotti adalah interpretasinya terhadap lagu “Little Wing”, dengan tidak merendahkan gitaris-gitaris yang sudah mengcover lagu ini, sepertinya hanya Scotti-lah yang bisa mengintegrasikan elemen-elemen permainan Hendrix ke dalam gaya permaiannya sendiri. Dan solo yang dimainkannya benar-benar sangat penuh penghayatan.

Scotti banyak bermain di Aeolian minor, blues scale, dan beberapa pentatonik mayor. Dia juga kadang memasukkan scale lain atau menyisipkan nada kromatik ke dalam solonya, dia juga menggunakan bending lebar untuk membuat solonya lebih bervariasi, vibrato yang agresif, nada harmonik dan teknik whammy bar. Pendekatan Scotti dalam teknik solo adalah melodic phrase dengan pembawaan agresif serta licks yang cepat dan berulang. Peralatan yang digunakan juga sedikit banyak menunjang sounds yang dimainkannya. Hamer superstrats, SuperPauls, Fender strat, JCM 800 dan sebuah rack processing.

He is all about intensity, composed leads, thought out, and always mirror the feel of the song and the classic records of his band feature great songs.

“I’m just a dumb guitar player, I’m never good at final words because final words are just too damn final. We’re going to smoke it this year!

-Scotti Hill-

8. David Gilmour Comfortably Numb / Time

David Gilmour

David Gilmour

Sebagai lead guitar dari band progressive-rock legendaris Pink Floyd, David Gilmour telah mewariskan sebuah warisan yang tidak bisa diklasifikasikan lagi. Permainan gitarnya yang penuh penghayatan dan atmosfer yang diciptakannya membuat kita serasa bertamasya ke negeri dongeng dengan nada-nada mengiringi seperti dalam lagu “Comfortably Numb,” “Time,” “Money,” “Mother” dan masih banyak lagi sounds klasik PF yang wajib dikupingi para gitaris diluar sana. Let’s take a close look at the rhythmic devices, melodic approaches, and guitar techniques of this brilliant, emotive soloist.

Gitar yang sering dipake David Gilmour adalah Vintage Reissue Fender Strat (USA ’57) dengan pickup EMG-SA. Dia juga memakai EMG-EXG expander & SPC midrange presence controls. Yang custom cuman bagian tremolo bar yang lebih pendek, sehingga dia bisa tetap memegangnya ketika sedang memetik atau melakukan solo dengan nyaman. Selain itu dia memakai Fender 1969 Stratocaster untuk semua rekaman sampai dia menemukan USA ’57 re-issue strat. Yang lain adalah Esquire Telecaster D-drop tuning untuk lagu “Run Like Hell”. Untuk stomp-box, kebanyakan sudah tidak dijual, namun bisa ditemui di eBay, karena dibikin khusus untuk Gilmour. Gilmour pernah mengatakan, bahwa produk Boss bisa mendekati suara stomp-box yang dipakainya.

Intisari Permainan Gilmour

Contoh pertama adalah lagu “Money” (Dark Side of the Moon). Misalnya dalam lagu “Money”, menggunakan scale pentatonic B minor (B–D–E–F#–A), yang dipadu padan dengan bending penuh, notes ditahan panjang dan ditambah vibrato, backward grace-note slides, dan kombinasi rhythm yang mantap. Namun, anda harus rada berhati-hati ketika melakukan bending penuh di fret ke 22, pada senar E tinggi, gunakan jari manis dan bantu dengan jari tengah untuk mencapai nada pitch. Untuk mendapat tone yang pas, coba gunakan strat dengan posisi pickups pada bridge, gunakan ampli dengan overdrive atau stompbox overdrive dengan banyak reverb, tambahkan juga settingan delay yang agak panjang (kira”450 ms).

Taktik memainkan lagu ballads seperti “Comfortably Numb” (The Wall), “Time” (Dark Side of the Moon), “Echoes” (Meddle), dan “Learning to Fly” (A Momentary Lapse of Reason). Menggunakan Aadd4 arpeggio (A–C#–D–E). Gunakan jari manis untuk bending, lepaskan ke jari tengah, dan biarkan jari telunjuk bermain di nada-nada senar G dan D di fret ke-14; slide dengan menggunakan jempol, dan akhiri dengan jari telunjuk pada phrase tadi. Bending setengah menarik dan slide yang dipanjangkan adalah teknik yang dipake pada scale G mayor (G–A–B–C–D–E–F#) dengan berpaku pada progresi nada IV–I (C–G) di nada dasar G. Jangan terlalu penuh melakukan bending disini, karena akan membuat nada G terlalu tajam. trademark lain dari Gilmour adalah teknik multiple bend; yang bisa didengarkan dalam lagu “Another Brick in the Wall, Part 2” (The Wall) dan “Time,” dia melakukan bending sebuah note sampai pitch, kemudian ditahan, dan bending note ini sekali lagi lebih tinggi sampai akhirnya dilepas lagi. Teknik ini memerlukan kekuatan tangan. Gunakan jari manis untuk bending, karena jari tersebut yang paling kuat untuk bending senar ke 2 (B) sampai pitch.

Gilmour sering melakukan slide dengan menggunakan bottleneck untuk menghasilkan nuansa atmosferik dan untuk mengakhiri sebuah solo seperti pada lagu “Breathe” dan “Brain Damage” (dari album Dark Side of the Moon), “If” (Atom Heart Mother), “A Pillow of Winds” (Meddle), dan “Comfortably Numb.” Kadangkala menambahkan echo panjang sampai volume  membesar, permainan slidenya gabungan dari nada satu-satu dalam dua kali berhenti. Kadang Gilmour memainkannya pada sebuah lap steel atau gitar pedal-steel, yang terpenting dalam memainkan slide adalah pastikan slide tersebut tidak berada diantara fret, tapi tepat diatas fretwire.

Solo

Solo bernuansa rock-ballad yang menjadi lagu kebangsaan Pink Floyd seperti “Comfortably Numb,” “Echoes,” atau “Us and Them” (Dark Side of the Moon). Setengah progresi pertama bergantian antara dua nada dasar utama (bar 1-16), B minor dan D mayor, sedangkan outro (bar 17-22) hanya serangkaian chord yang paralel dengan scale D mayor (seperti Dsus2, Bm11, Asus4, dan A) dan D minor (seperti Dsus2/C dan Bf6#11). Progresi berakhir (bar 23-24) dengan kembali ke nada awal, B minor.

Solo dibuka dengan serangkaian glissando yang panjang dimainkan dengan slide bottleneck dalam scale pentatonik B minor add 2 (B–C#–D–E–F#–A), dan untuk menghasilkan vibrato, tahan slide dengan cepat dengan menggunakan gerakan dari pergelangan tangan, maju mundur diatas fretwire. Lepaskan slide pada bar 5, mainkan bending agresif disana. Kemudian lanjutkan dengan running melodi pada senar G dalam scale D Mayor (D–E–F#–G–A–B–C#), disini ada beberapa legato klasik ala Gilmour: lick dengan mengacu pada arpeggio di bar 6, bending setengah dan dilepas perlahan pada akhir bar 6 dan memulai bar 7, bending/lepas/pull off/hammer on (akhir dari bar 7 dan menuju bar 8), dan sebuah hammer on/pull off/slide/bending/lepas pada bar 8. Lakukan dan latih per bagian secara terpisah untuk mendapat akuransi yang diinginkan.

Bar 9 menampilkan sebuah rangkaian setengah bending dan pre-bending pada senar ke-6 (E). Perhatikan rhythm staccato sedikit mendominasi running chords. Pada bar 10, sebuah arpeggio Aadd4 (ditambah dengan bending setengah) kemudian menuruni fretboard sampai pada ujung nada B minor di bar 11. Lakukan secara pelan, karena ini memerlukan beberapa perubahan posisi.

Diantara bar 11 dan 12, slide dobel-stop, gunakan jempol untuk membantu.    Tiga kali bending penuh ditambah sekali multiple bending di bar 13. Kemudian legato masuk di bar 13-14, kali ini diikuti scale pentatonik G mayor (G–A–B–D–E). Dan ketika masuk di bar 15, multiple bending (gunakan jari manis, dibantu jari tengah dan telunjuk), seksi pertama ini ditutup dengan sebuah melodi Mixolydian yang menurun (A–B–C#–D–E–F#–G) dengan triplet 8 nada. Bar 17 ditandai dengan masuk modal outro, melodi D–A–D membuka rangkaian bending pentatonik D minor (D–F–G–A–C) pada bar 18. Bending setengah cukup cerdik untuk memasuki pentatonik B minor (B–D–E–F#–A) di bar 19 untuk bagan chord Bm11 (B–D–F#–A–C#–E).

Bar 20 menunjukkan fase paling cepat dari keseluruhan solo. Berdasarkan pattern pada D minor pentatonik pada fret ke 10, mainkan sextuplet licks pada mode  Bb Lydian (Bb–C–D–E–F–G–A). Mainkan secara pelan, pakai urutan picking yang pas: mulai dari turun/naik/turun/turun/naik untuk frase pertama dan lanjutkan dengan downstrokes setelah itu. Bar 21 isinya arpeggio Dadd9 (D–E–F#–A) menuju klimaks menyambut bending di senar pertama. Frase penutup (bar 23-24) mulai tenang memainkan scale pentatonik B minor dengan slide berlawanan arah.

Gaya permainan ini yang menarik untuk dipelajari. Beberapa gitaris psychedelic banyak mengikuti teknik sounds Gilmour, seperti Mikael Akerfeldt (Opeth) dan Steven Wilson (Porcupine Tree).

“I can’t help but stick my finger into everything. I’m a greedy person.”

-David Gilmour-

9. Don Felder & Joe Walsh / Hotel California

Don Felder

Don Felder

Duet solo maut antara Donald William Felder dan Joe Walsh dalam lagu “Hotel California” tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu solo gitar paling diingat sepanjang masa. Background musik Don Felder sangat bermacam, mulai dari country, rock, blues bahkan dia pernah menghasilkan album jazz bersama bandnya sebelum bergabung dengan The Eagles. Tak bisa dipungkiri juga, arah musik The Eagle mengarah ke rock country, pop setelah Don Felder bergabung (1974). Joseph Fidler Walsh bergabung setahun kemudian, untuk menggantikan Bernie Leadon dan juga memantapkan dirinya sebagai multi-instrumentalis, aranger, dan musisi  segala bisa yang kemudian dibuktikan ketika memecahkan rahasia solo B-minor “Hotel California” dengan harmoniasi arpeggio. Walsh lebih banyak bermain pull-off, sedangkan Felder banyak bermain blues progresi di nada D dan bending.Tidak ada teknik yang spesifik, hanya teknik dasar jazz dan blues, sedikit progresi chords tapi dengan feel yang kuat. Permaian akustik di album Hell Freezes Over juga sangat memukai, terutama solo akhir dari lagu “Hotel California”. Encore ketiga dari lagu ini ditulis Felder ketika dia sedang di pantai. Dan mengalir begitu saja.

“The solos and music in Hotel California, it’s a moving performance, you don’t know what it is, but it’s really nice to be a classic, by the way.

-Don Felder-

10. Steve Lukather While My Guitar Gently Weeps / Falling In Between

Steve 'Luke' Lukather

Steve 'Luke' Lukather

Steve ‘Luke’ Lukather pernah dijuluki “the best musician on the planet.” Walaupun dia banyak diasosiasikan dengan band peraih Grammy, Toto, namun dia juga seorang aranger dan produser rekaman. Tiga kata untuk mendeskripsikan gaya permainan gitarnya, melodic, powerful, smooth, baik dalam genre rock, progressive, jazz maupun funk, dia adalah salah satu terbaiknya. Banyak terpengaruh para pendahulu blues rock seperti Hendrix dan Jimmy Page, gitaris jazz Larry Carlton serta virtuoso jazz-fusion Al Di Meola. Permainan vibrato-nya sangat jelas dan mantap. Dia juga sangat bagus dalam harmoni latar, begitu juga dengan shredding.

Beberapa style Luke yang bisa dipelajari adalah: pentatonic scale G minor, scale Eb Mayor dan G minor, rangkaian nada kromatik, chords diluar nada dasar, modulasi, alternate picking, tapping dan harmonic tapping, legato, bending, whammy bar, dan vibrato tangan kiri.

Pandangannya terhadap seorang gitaris adalah tergantung dari diri sendiri, apakah kita ingin menjadi musisi session (cabutan), maka siap-siap saja karena tidak akan banyak yang anda lakukan. Kalau anda ingin menjadi seorang musisi pembaca note, maka anda harus bagus dalam bermain sambil membaca untuk bermacam style musik, dan harus bisa spontan. Dan kalau anda ingin menjadi gitaris rock, maka anda bisa mencoba sebagai solois atau bikin sebuah band dan mulai eksplorasi sounds. Anda harus ramah, dan mau bekerja keras, dalam bermusik 90% adalah keberuntungan, dan 10% adalah talenta. Oleh karena itu, 10% talenta itu harus maksimal dan bagus.

Kredit untuk lagu “While My Guitar Gently Weeps” seharusnya diperuntukkan George Harrison dan Eric Clapton. Namun saya lebih menyukai interpretasi Luke dalam lagu ini.

“Learn HOW to be a musician, not a “RockStar”!! Hell, ANY idiot can be a rock star in this day and age. If your LUCKY that will last a year or 2… then what?? You don’t play well enough to get a REAL gig as a player.
Dream over! Think about it.”

-Steve Lukather-

Ingin sekali saya memasukkan Steve Howe dengan gaya klasiknya dan Steve Morse dengan shredded arpeggio-nya, namun saya belum mampu pada taraf tersebut, mungkin lain waktu. Salam.

“Don’t be shredder… be epic!”

-Supreme-

====================================================

Arsip

====================================================

5 responses to “Ten Rocks!

  1. Bermula dari google, saya menemukan tulisan anda. Saya berterimakasih untuk tambahan info Scotti Hill. Ya, beliau klo main solo penuh emosi. Belajar mengkopi phrasing Scotti itu sama aja belajar mengendalikan dan menata emosi. I love him so much.

    Saya ada cover khusus untuk Scotti, dengan solo 18 and Lie, Piece of Me, Big Guns dan Wasted Time. Untuk mengkopy semirip dia menghabiskan waktu saya lebih dari 3 tahun, dari searching sound, atur emosi, aksen vibrasi, bending, dan sbagainya, but I enjoyed it.

    Di sini saya sharing video cover saya khusus Scotti Hill, thanks for watch

    Regards,
    S

  2. Terima kasih sudah mampir. Saya jg masih berlajar feel sama mas Scotti ini, natural banget permainannya, kayak ngga perlu teori, tp scalenya ga main”.

    Nanti saya mampir melihat cover ada. Sedang jg ada yang berkiblat ke Scotti, satu mahzab kita 🙂

    Salam,

    DM

  3. Kebetulan jg ada Wasted Time di cover saya itu (1 video isi 4 solo cover). Saya paling suka malah solo mas Scotti di lagu Piece of Me, ngulik nadanya sih mudah, tapi hal yang paling susah banget adalah melakukan approach tremolo bar ala dia di Piece of Me. Dia termasuk gitaris pemakai tremolo untuk keperluan harmony dan keindaan lewat feel, bukan extreme model pamer make tremolo 🙂 Wise man.

    Regards,
    S

  4. Wah saya baru merhatiin nih bagian tremolo yang mas maksud… kuping saya kurang jeli dan jarang liat livenya Skid Row. Saya pikir dia mumpuni di half-bending-muted buat suara gitar yang melengkingnya jd ga perlu tremolo, ternyata dipakai di nada” harmonic. Sekilas penggunaan tremolo Scotti kayak Petrucci ya, jarang” dan hanya untuk sustain nada. Saya sedang liat Youtube mas suryopras nih.. keren mas.

  5. Yang sering melengking itu justru mas Dave Snake Sabo di rhytmis yang kaya. Hill jarang tapi kadang sih iya dan bersifat banyak ke lengkingan accidental bergantung mood dia, sepengamatan saya mas.

    Salam rock

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s