Tag Archives: album baru

Epic Progresif Rock a la Terra Incognita – Beyond The Horizon

Terra Incognita - Beyond The Horizon (2009)

Terra Incognita - Beyond The Horizon (2009)

ProgRock Records bekerja sama dengan penulis internasional Kevin J. Anderson untuk sebuah proyek berseberangan antara sebuah novel dan musik progresif rock yang diberi nama Terra Incognita. Anderson menciptakan jagat raya khayalan yang menakjubkan dalam novelnya, penuh dengan kapal layar, monster laut dan pasukan perang. Novel pertamanya berjudul, The Edge Of The World, akan beredar mulai tanggal 2 Juni via Orbit Books.

Anderson menyatakan bahwa karyanya selalu terinspirasi oleh musik, khususnya progresif rock, namun jangan khawatir, Terra Incognira ini akan membawa kita ke dimensi baru dari progresif rock. Anderson telah mengembangkan jalinan cerita dalam novelnya sehingga sangat sesuai dengan konsep album bernuansa epic, yang digarap oleh band Roswell Six ini. Anderson berserta sang istri, penulis bestseller Rebecca Moesta, menulis semua lirik dari semua lagu yang ada dalam album tersebut.

Dengan menggandeng komposer sekaligus keyboardis Erik Norlander (Rocket Scientist) yang bergabung sejak awal proyek ini dirintis menggarap musik serta memproduseri rekaman tersebut. Bersama istrinya, Lana Lane, “Queen of Symphonic Rock,” berperan sebagai lead vocal, bassis Kurt Barabas (Under The Sun) dan Eksekutif Produser Shawn Gordon dari ProgRock Records.

Dalam album ini juga akan diperkuat sederetan vokalis seperti James LaBrie (Dream Theater), Michael Sadler (ex-Saga), dan John Payne (Asia feat John Payne). Ada juga para musisi handal seperti David Ragsdale (Kansas), Gary Wehrkamp (Shadow Gallery), Chris Quirarte (Prymary) dan Chris Brown (Ghost Circus). Mereka, para tim kreatif telah menjual album lebih dari 40 juta keping di seluruh dunia.

Terra Incognita adalah sebuah proyek sinergis antara dunia penerbit dan musik industri, sebuah novel dan album dari penulis yang sama. This is my longtime project kind of thing. Oh well, they’re taking over the position now. Kevin J. Anderson saat ini sedang menulis buku keduanya dalam rangkaian trilogi Terra Incognita: The Map of All Things. Anderson terkenal dengan novel Dune yang sukses bersama Brian Herbert, dan juga beberapa novel Star Wars dan X-Files novels, serta epic The Saga Of Seven Suns.

Terra Incognita adalah rilisan pertama di ProgRock Records, dan akan tersedia dalam bentuk CD serta buku pada bulan Juni mendatang. Edisi spesial juga tersedia dengan diskon di website ProgRock Records, serta buku yang telah ditandatangani yang berjumlah hanya 200 buku.

Jordan Rudess Rilis ‘Notes On A Dream’ & ‘Keyboard Experience’

Notes On A Dream (2009)

Notes On A Dream (2009)

Keyboardist Dream Theater, Jordan Rudess merekam album baru berisi permainan piano dari beberapa lagu ballad favoritnya dalam Dream Theater dan juga beberapa karya piano progresif terbaru, untuk album teranyarnya, Notes On A Dream. Album terakhir Jordan, The Road Home (2007) lebih banyak mengusung inspirasi musik klasik progresif seperti Genesis, Yes, dan Gentle Giant, Jordan mencoba menginterpretasikan lagu-lagu klasik dari band tersebut dengan sentuhan khas-nya. Dalam album tersebut dia dibantu oleh beberapa musisi seperti Nick D’Virgilio (Spock’s Beard), Kip Winger (Winger), Rod Morgenstein (Winger), Ed Wynne (Ozric Tentacles), Bumblefoot (Guns N’ Roses), Marco Sfogli (James LaBrie), Ricky Garcia (Lafee) dan masih banyak lagi.

Notes On A Dream:

01. Through Her Eyes
02. Lifting Shadows Off a Dream
03. Perpetuum Mobile
04. The Silent Man
05. Another Day
06. Hollow Years
07. The Grand Escapement
08. The Spirit Carries On
09. Speak To Me
10. The Answer Lies Within
11. Collision Point
12. Vacant

Keyboard Experience (2009)

Keyboard Experience (2009)

Selain itu, Jordan juga merilis buku musik terbarunya berjudul Keyboard Experience, tidak hanya berisi kumpulan lagu, tapi lebih sekumpulan cerita serta pengalamannya bersama Dream Theater. Transkripsi keyboard nada-per-nada dari sembilan lagu pilihan Dream Theater dari kurun waktu 1992-2007, photo eksklusif saat konser Dream Theater, dan wawancara khusus bersama Jordan yang banyak bercerita tentang teknik permainan keyboard dan pengalamannya bermain bersama para rekan virtuoso dalam Dream Theater. Tidak hanya itu, Jordan juga mempersembahkan secara khusus, ‘cara berlatih’ atau teknik pemanasan untuk memainkan tiap-tiap lagu tadi. Masing-masing teknik pemanasan memiliki keunikan, untuk menjawab tantangan teknik dari lagu-lagu Dream Theater. Buku ini terdiri dari 212 halaman dan wajib untuk dimiliki oleh para pianis.

Sembilan lagu pilihan tersebut adalah: “Blind Faith” (Six Degrees Of Inner Turbulence), “Home” (Metropolis, Pt 2: Scenes From A Memory), “Honor Thy Father” (Train Of Thought), “In The Presence Of Enemies Pt. 1” (Systematic Chaos), “In The Presence Of Enemies Pt. 2” (Systematic Chaos), “Lines In The Sand” (Falling Into Infinity), “Octavarium” (Octavarium), “Space-Dye Vest” (Awake), “Take The Time” (Images And Words), dan “The Ministry Of Lost Souls” (Systematic Chaos).

Suguhan Langka ‘Guitar Masters Vol. 2’ Segera Dirilis

Guitar Masters Vol 2 (2009)

Guitar Masters Vol 2 (2009)

Brian Tarquin dan BHP Productions baru-baru ini mengumumkan bahwa sequel dari seri Guitar Masters terbaru akan dirilis, Guitar Masters Vol. 2 via Red Eye, diproduseri oleh gitaris merangkap komposer dan produser Brian Tarquin, memuat koleksi langka dan klasik dari para gitaris papan atas dunia. Kumpulan lagu klasik ini termasuk lagu asli Jimmy Page & Lord Sutch di tahun 70-an, sebuah versi live yang mengagumkan dari B.B. King yang memainkan lagu klasiknya, “Paying the Cost to be the Boss” “Light up the Sky” milik Van Halen yang dimainkan oleh Yngwie Malmsteen bersama Billy Sheehan. Adalah impian para gitaris untuk bisa menggarap album dengan materi dari para legendaris dunia seperti Jimmy Page, B.B. King, Santana, serta bekerja sama dengan Steve Morse dan Max Middleton. Brian yang juga komposer peraih Emmy Award atas beberapa acara televisi dan film, juga seorang komposer sekaligus gitaris dengan karya solonya telah terjual lebih dari 130.000 keping. Dia telah bekerja sama dengan beberapa gitaris seperti Jeff Beck, Joe Satriani, Zakk Wylde, Stanley Clarke, Billy Sheehan, Hal Lindes dan Carlos Santana. Brian juga pemilik Jungle Room Studios dan boutique BHP Music di New York.

Ketika para penikmat musik mendengar kata ‘guitar masters‘, mungkin persepsi mereka langsung kepada sebuah ajang shredding para virtuoso gitaris papan atas. Namun, Brian melakukan pendekatan yang sedikit berbeda dengan embel-embel ‘master’ dalam album garapannya. Itulah sebabnya, Guitar Masters adalah sebuah seri yang yang memberikan inspirasi, mengundang sensasi dan tentunya secara musikal sangat ekstrim. Brian mencoba mencari dan mengumpulkan para gitaris dengan berbagai styles dan aliran musik, dari berbagai level, dari yang terkenal dan tidak terkenal, baru muncul atau yang hampir terlupakan, untuk menyuguhkan nada-nada klasik, teknik permainan dan perjalanan sebuah melodi lagu. Dan hasilnya, para master gitar ini benar-benar menyuguhkan riff, solo dan motif permainan yang semuanya fresh, bebas dari plagiarism, sehingga para penikmat akan menemui sebuah pengalaman baru mendengarkan kompilasi yang sudah dicari tandingannya, sangat menarik dan berbeda dari yang lain.

14 lagu akan mengisi album Guitar Masters, Vol 2 ini bervariasi mulai dari rock-fusion latin a la Santana ketika masih muda, sentuhan magis a la B.B. King, virtuoso musik country Pete Anderson, serta twin-harmonies dari Jimmy dan Johnny Ryan. Para penggemar gitar juga akan disuguhi blues kental a la Larry McCray dan JW Jones, sebuah kolaborasi klasik 70-an dari Jimmy Page/Jeff Beck, sebuah shred-tastic dari Michael Lee Firkens dan Neil Zaza, serta karya Brian sendiri bersama mantan keyboardis Jeff Beck, Max Middleton dan juga tak ketinggalan gitaris kelas wahid Dixie Dregs/Deep Purple, Steve Morse. Sebagai penutup, nuansa hard-rock yang bisa menjadi materi sekolah musik disuguhkan oleh mantan gitaris Dire Straits, Hal Lindes, Beat the Bone, Alex De Rosso, dan sebuah interpretasi dari lagu milik Van Halen, “Light Up the Sky” lewat kolaborasi antara Yngwie Malmsteen, Billy Sheehan, dan Doug Pinnick. Bakal banyak pelajaran klasik dalam album kedua ini, yang berbeda dengan seri pertama yang lebih menyuguhkan teknik bermain gitar. You’d have to be dead or deaf not to be moved by the beautiful noises you’ll hear on this loud and proud CD.

Guitar Masters Vol. 2:

01. Light Up The Sky – Yngwie Malmsteen, Billy Sheehan & Dug Pinnick (King’s X)
02. Flashing Lights – Jimmy Page & Lord Sutch
03. Jingo – Santana
04. Payin The Cost To Be The Boss – B.B. King
05. Baby Done Something Wrong – Pete Anderson (Dwight Yoakam)
06. Buck Naked – Larry McCray
07. Fargo – Michael Lee Firkens & Neil Zaza
08. Jungle Room Boogie – Brian Tarquin & Max Middleton (Jeff Beck)
09. Ricarda – Hal Lindes (Dire Straits)
10. Parasomnia – JW Jones Band
11. Towers – Brian Tarquin & Steve Morse
12. Planet E – Beat The Bone
13. Gaza – The Flyin Ryan Brothers
14. Wishes – Alex De Rosso (Dokken)

The Queen of Metal Is Back!

Wicked Wonderland (2009)

Wicked Wonderland (2009)

Lita Ford kembali lagi setelah 15 tahun menghilang dengan merilis album terbarunya berjudulWicked Wonderland musim gugur mendatang via label pribadinya JLRG Entertainment. Jauh dari hingar bingar musik metal yang membesarkan namanya, dan pindah ke sebuah kepulauan di Karibia serta membesarkan kedua putranya, membuat Lita ingin kembali dengan beberapa konser pemanasan selama musim panas mendatang di Amerika Serikat dan Eropa. Mengomentari musik di album terbarunya, Lita menyebutkan bahwa kali ini dia mengusung musik yang lebih keras daripada sebelumnya. Album yang diproduseri bersama sang suami yang juga mantan vokalis band Nitro, Jim Gillette bersama Greg Hampton yang merangkap penulis lagu dan multi-instrumentalis, serta menjadi produser kawakan Alice Cooper, dan pentolan bandnya Science Faxtion (yang didukung Bootsy Collins, Buckethead dan Brain dari Guns N’ Roses). Dalam album ini Lita didukung drummer Stet Howland (ex-W.A.S.P.), Hampton pada bass, rhythm guitar dan keyboards, Gillette (background vocals), cover arts dikerjakan oleh mantan bassis Rob Zombie, Piggy D.

Lagu-lagu yang diusung Lita masih berkisah seputar erotisme dibalut musik hard rock yang kental dengan ciri khas permainan gitar yang menjadi trademark Lita selama ini. Dalam album ini akan diisi lagu-lagu yang juga bertema sosial seperti “Patriotic SOB”, “Piece (Hell Yeah)”, Lita juga berduet bersama Gillette dalam “Indulge” dan “Betrayal”, yang juga muncul dalam video game Brütal Legend, dimana Lita juga akan mengisi suara salah satu karakter bersama Jack Black, Lemmy Kilmister dan Rob Halford. Rekamannya kali ini membawa Lita sebagai sosok yang lebih matang sebagai seorang rocker legendaris, sekaligus seorang istri dan ibu bagi putra-putranya.

Lita muncul untuk pertama kalinya setelah sekian lama absen ketika tampil di konser Rocklahoma tahun lalu, kemudian disusul dengan festival Rock The Bayou di Texas. Lita memulai karirnya ketika berusia 17 tahun, sebagai lead guitarist band yang semua personilnya wanita, The Runaways. Karirnya sendiri telah mencetak best-selling album Out For Blood, Dancin’ On The Edge, Stiletto, Dangerous Curves dan album yang laris manis dan lagu-lagu yang membuat namanya semakin berkibar seperti “Kiss Me Deadly”, “Shot Of Poison”, “Hungry” dan Top 10 hit duetnya bersama Ozzy Osbourne, “Close My Eyes Forever”. Meskipun lama tidak berkecimpung di dunia musik rock & metal, Lita tidak akan mengusung musik mellow, dia tetap akan menunjukkan kepada dunia bahwa seorang wanita sekaligus ibu ini bisa tampil dalam form terbaiknya sebagai rocker sejati. “I missed playing rock’n’roll”, imbuhnya.

Lita Ford (2008)

Lita Ford (2008)

Paradise Lost Rilis ‘Drown In Darkness – The Early Demos’

Drown In Darkness - The Early Demos (2009)

Drown In Darkness - The Early Demos (2009)

Band pelopor gothic metal asal Inggris, Paradise Lost bakal merilis demo awal mereka, Paradise Lost (1988) dan Frozen Illusion (1989), dalam sebuah album. Demo hasil rekaman kasar ini, yang memperliatkan akar musik mereka yang kental dengan doom metal, akan didampingi oleh enam lagu dari bootleg Plains Of Desolation (1989), yang sebelumnya belum pernah dirilis. Semua lagu dalam album ini telah diremaster secara digital dan akan dirilis dalam edisi terbatas. Album yang rencananya dirilis pada 25 Mei mendatang via Century Media Records ini, bakal diberi judul Drown In Darkness – The Early Demos. Sedangkan album studio terbaru mereka, bakal dirilis September mendatang dengan produser Jens Bogren. Album ini bakal berisi 10 lagu, diantaranya adalah “First Light”, “As Horizons End”, “Faith Divides Us, Death Unites Us”, “Frailty” dan “My Last Regret”.

Berisi extensive liner notes dari vokalis Nick Holmes dan sebuah packaging unik seperti replika piringan hitam, Drown In Darkness – The Early Demos wajib dimiliki oleh para penggemarnya, telepas dari kualitas demo yang sangat tidak standart, namun menunjukkan kualitas musikal mereka yang selama ini dijuluki salah satu band paling berpengaruh di kancah musik metal. Hal ini dibenarkan gitaris Greg Mackintosh yang menyatakan bahwa pada saat itu mereka tidak memproduksi demo dengan bagus, namun mereka menunjukkan musikalitas mereka apa adanya, mulai membangun eksistensi dalam musik underground di Inggris dan Eropa. Namun, mereka lebih menyukai versi demo ini ketimbang album perdana mereka, karena dengan inilah mereka dikenal, dan demo ini yang nantinya menjadi cikal bakal musik gothic metal.

Drown In Darkness – The Early Demos:

01. Drown In Darkness (4:38)
02. Internal Torment (5:05)
03. Morbid Existence (2:38)
04. Paradise Lost (5:24)
05. Internal Torment (5:40)
06. Frozen Illusion (5:16)
07. Internal Torment (live) (4:40)
08. Our Saviour (live) (5:56)
09. Plains Of Desolation (live) (4:10)
10. Drown In Darkness (live) (4:37)
11. Paradise Lost (live) (5:34)
12. Nuclear Abomination (live) (3:48)

1-3 diambil dari demo “Paradise Lost” (1988)
4- 6 diambil dari demo “Frozen Illusion” (1989)
7 – 12 diambil dari live bootleg “Plains Of Desolation” (1989)

Paradise Lost (2009)

Paradise Lost (2009)

Faith No More Rilis Koleksi Terbaiknya

The Very Best Definitive Ultimate Greatest Hits Collection (2009)

The Very Best Definitive Ultimate Greatest Hits Collection (2009)

Sebagai pemanasan menjelang tour reuni, band asal San Francisco, California Faith No More bakal merilis koleksi terbaiknya dalam album The Very Best Definitive Ultimate Greatest Hits Collection pada 8 Juni mendatang di Inggris via via Rhino Records. Dobel album ini akan berisi karya-karya terbaik mereka pada disc 1 dan beberapa b-side dan lagu yang belum pernah dirilis pada disc 2. Februari silam, FNM mengumumkan bahwa mereka akan reuni untuk tour The Second Coming Tour dengan formasi album Album of The Year (1997). Mereka pertama kali berkumpul dalam sebuah sesi latihan pada 4 Maret lalu, setelah 10 tahun berpisah. Mereka akan menggelar tour di Amerika Utara setelah semuanya siap. Gitaris sekaligus pendiri FNM, Jim Martin tidak akan ikut serta kali ini, dan posisinya akan diisi oleh Jon Hudson.
The Very Best Definitive Ultimate Greatest Hits Collection:

Disc 1:

  1. “The Real Thing”
  2. “From Out of Nowhere”
  3. “Epic”
  4. “We Care a Lot”
  5. “R’n’R”
  6. “Kindergarten”
  7. “Caffeine”
  8. “Land of Sunshine”
  9. “Be Aggressive”
  10. “Midlife Crisis”
  11. “A Small Victory”
  12. “Everythings Ruined”
  13. “Evidence”
  14. “Digging the Grave”
  15. “Ricochet”
  16. “Ashes to Ashes”
  17. “Stripsearch”
  18. “Easy”

Disc 2:

  1. “Absolute Zero” (B-side on “Digging The Grave” single 1995)
  2. “The Big Kahuna” (B-side on “Ashes To Ashes” single 1997)
  3. “Light Up And Let Go” (B-side on “Ashes To Ashes” single 1997)
  4. “I Won’t Forget You” (rarity previously released on “Who Cares A Lot” greatest hits album 1998)
  5. “The World Is Yours” (B-side on “I Started A Joke” single 1998)
  6. “Hippie Jam Song” (rarity previously released on “Who Cares A Lot” greatest hits album 1998)
  7. “Sweet Emotion” (given away with Kerrang! magazine In 1989)
  8. “New Improved Song” (given away with Sounds magazine In 1988)
  9. “Das Schutzenfest” (B-side on “Evidence” single 1995)
  10. “This Guy’s In Love With You” (B-side on “I Started A Joke” single 1998)

Faith No More (2009)

Faith No More (2009)

Faith No More 2009:

Mike Patton – lead vocals
Billy Gould – bass guitar
Mike Bordin – drums & percussion
Roddy Bottum – keyboards
Jon Hudson – guitar

Veteran Kansas Bergabung Dalam Native Window

Native Window (2009)

Native Window (2009)

Para prog-rockers, khususnya penggemar berat band Kansas mungkin sangat menyayangkan kenapa dua pentolan band progressive rock asal Topeka, Steve Walsh (singer/keyboard/synth) dan Kerry Livgren (guitar/keyboard/synth) pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan membuat album baru, namun kali ini ada sedikit angin segar buat para penggemar, dengan mengusung nama Native Window, Kansas minus Walsh, bakal merilis album perdana mereka pada 23 Juni mendatang via StarCity Records (milik Jeff Glixman, yang juga memproduseri beberapa album terlaris Kansas). Drummer Phil Ehart menyatakan, mereka juga sebenarnya tidak punya satu lagu pun ketika memulai band ini, mereka sedikit surprise ketika ternyata bisa merampungkan rekaman album perdana ini. Beberapa lagu ditulis oleh mereka sendiri, beberapa lagu berkolaborasi dengan penulis dari luar, serta beberapa lagu musisi lainpun dibawakan. Tanpa kehadiran suara Walsh, berarti tanpa nuansa keyboard yang menjadi khas musik Kansas. Gitaris Richard Williams menambahkan, mereka memang tidak ingin meniru apa yang telah dilakukan oleh Kansas, baik dalam proses penulisan lagu, musik yang dihasilkan, bahkan proses emulasi yang biasa dilakukan oleh Kansas.

Album ini diproduseri oleh Steve Rawls dan Native Window, serta direkam di Real 2 Reel Studios selama dua tahun, dengan formasi Ehart dan Williams, vokalis/bassis Billy Greer, dan violinis David Ragsdale, mencoba untuk menggali lebih dalam apa yang belum pernah dilakukan oleh Kansas secara musikal. Mereka tidak lagi berada dalam bayang-bayang anthem melodic rock ala Kansas, bahkan hampir semua personil tidak tahu harus membawa musik Native Window ke arah mana, namun yang pasti, sebuah lagu harus bisa dimainkan secara akustik dengan bagus. Dengan hanya berpegang satu kriteria tersebut, mereka mulai menciptakan lagu, bahkan walaupun hanya bagus dengan gitar akustik dan vokal saja, mereka akan menggali hanya dari sisi itu saja. Dan untuk penulisan lirik pun demikian juga. Semua personil punya andil baik hanya dengan judul lagu, satu bait lirik, chorus, harmonisasi, bahkan dengan hanya bergumam saja. Billy banyak mengeluarkan tema tentang sebuah lagu, dan semua akan mengembangkan ke dalam sebuah bentuk lagu.

Ketika ditanya lagu mana yang menjadi favorit mereka, Ragsdale tidak bisa menjawab hanya satu lagu, tapi semua lagu punya keistimewaan. Seperti mood dalam lagu “Miss Me”, serta bagaimana proses pengembangan lagu ini. Kemudian lagu “Blood In the Water” yang bisa membuatnya tersenyum lebar, Greer pun berpendapat sama tentang hasil karyanya ini, proses penulisan lagu dan rekaman yang santai serta menyenangkan belum pernah dirasakan setelah sekian lama berkutat dalam musik. Mereka akan melakukan promo di radio mulai 24 Juni mendatang, serta tour musim panas dan launching band di Kansas. Ehart juga berpesan, bagi mereka yang bertanya-tanya kenapa Walsh tidak ikut serta dalam proyek ini, bahwa Walsh sangat mensupport Native Window sejak awal proyek ini berlangsung.

Native Window (2009)

Native Window (2009)