Hot or Not

We’ll see what’s in my mind about this section…

Setelah menimbang beberapa hal, saya akan mencoba mengisi Hot Or Not dengan me-review album yang menurut saya layak dicoba untuk dinikmati. Sehingga anda bisa menilai apakah album ini Hot or Not!

Black Clouds And Silver Linings (2009)

Black Clouds And Silver Linings (2009)

Dream TheaterBlack Clouds And Silver Linings

Released Date: June 23, 2009

Label: Roadrunner Records

Produser: John Petrucci & Mike Portnoy

Mixed by Paul Northfield

Recorded October 2008 – March 2009 at Avatar Studios in New York City

Genre: Progressive Metal

Duration: 75:22

Cover designed by Hugh Syme

Album kesepuluh Dream Theater ini mulai dikerjakan pada bulan Oktober 2008 silam setelah mereka menyelesaikan promo tour Chaos In Motion. Mike Portnoy menyatakan bahwa album Black Clouds & Silver Linings ini sebagai gabungan dari “A Change of Seasons”, “Octavarium”, “Learning To Live”, “Pull Me Under” dan “The Glass Prison”. Sedangkan Jordan Rudess sempat memberikan komentar tentang album ini, dengan mengatakan bahwa mereka mulai memasuki domain gothic di beberapa bagian, layer vokal dan synthesizer sepertinya menjawab apa yang dikatanya Jordan. Album berdurasi 75 menit ini terdiri dari 4 epics dan dua single.

Terima kasih buat seseorang di Eropa sana yang telah memberikan copy album sebelum tanggal rilis. Don’t worry mate, I’ll buy the original version. Berikut ini song-by-song breakdown:

“A Nightmare To Remember” 16:10 (John Petrucci)

Lagu pembuka di album ini, menyuguhkan permainan piano yang sedikit mistis, sebelum memasuki running chords yang memberi kesan dark diiringi double-kick dari Portnoy, sebelum didominasi oleh permainan Petrucci yang kali ini sepertinya mengusung sounds gitar yang kembali ke era Scenes from A Memory. Setelah beberapa menit, teksture gitar yang lebih sopan mendominasi lagu, sebelum akhirnya Petrucci menutupnya dengan solo yang cukup menarik untuk melatih jari melakukan shredding. Vokal James LaBrie kali ini lebih terkontrol, membuat album ini menjadi lebih berbobot dibanding album mereka sebelumnya. Meskipun berdurasi 16 menit lebih, tak satupun bagian dari lagu ini terkesan sedang berbasa basi menghabiskan bar lagu. Jordan juga memberikan solo keyboard yang tak kalah ciamik, mengirinya kecepatan Petrucci menari diatas fret gitarnya. Keduanya pun saling bertukar kemampuan memainkan nada-nada njlimet. Kalau kita ingat DVD dokumenter mereka, ada salah satu solo keyboard Jordan yang tidak dipakai, ada kemungkinan di lagu inilah solo tersebut dipakai. Sesuatu yang baru di album ini adalah munculnya vokal growling yang dinyanyikan oleh Portnoy, yang membuat saya semakin yakin, bahwa Portnoy memang fans berat Mikael Åkerfeldt (Opeth). Meskipun dalam album terakhir mereka Systematic Chaos, Portnoy mendapatkan sejumlah kritik karena memasukkan growling, namun kali ini digarap lebih rapi, seiring pergantian movement (setidaknya ada 3 movement berbeda) dari lagu tersebut. Melodi keyboard yang disuguhkan Jordan lebih berkarakter seperti gothic, namun masih dibelakang bayang-bayang riff Petrucci yang kental dengan gaya musik Dream Theater. Sebagai lagu pembuka, “A Nightmare To Remember” cukup menarik, walau membutuhkan beberapa kali putaran, dan cukup melelahkan untuk mendengarkan secara detail keunikan dari lagu ini.

“A Rite Of Passage” 8:35 (Petrucci)

Setelah cukup lelah mencerna lagu berdurasi 16 menit, sekarang lagu yang berdurasi hanya setengahnya. Riff gitar intro seperti terinspirasi oleh “In The Name Of God”, dengan sedikit nuansa ketimur-tengahan, sebelum memasuki catchy riff yang mendominasi lagu. Di lagu ini masih nyempil vokal growling Portnoy yang membuat die-hard fans mungkin akan memicingkan mata atau bahkan mengangkat bahu, kenapa mesti nuansa Opeth dikedepankan lagi oleh Portnoy. Bagian chorus sangat memorable, mudah diingat, pantas kalau lagu ini dipilih sebagai single pertama (setelah diedit menjadi 5 menit). Dari sisi produksi juga dapat diperhatikan bahwa penggarapan lagu ini cukup cerdik, dan vokal LaBrie tidak pernah sekuat ini selama beberapa tahun ke belakang. Setelah dua per tiga lagu ini berjalan, anda akan memasuki domain yang mungkin akan sedikit membuat anda bertanya-tanya, kemana gerangan mereka akan membawa musik Dream Theater. Petrucci sengaja menyimpan solo gitarnya dibagian akhir, dengan perubahan tempo yang dinamis, sekilas seperti lagu Metallica era Kill ‘Em All dengan teknik solo ala lagu-lagu di album Train of Thought. Kemudian Jordan mengimbangi dengan solo keyboard dan beberapa tarian jemarinya dengan sounds yang aneh. Setelah itu mereka kembali kepada catchy movement yang merangkum semua yang telah Dream Theater capai selama ini yang akan membuat para penggemarnya semakin menyukainya.

“Wither” 5:25 (Petrucci)

Lagu “Wither” bisa jadi masa istirahat dari segala sesuatu yang njlimet tentang musik Dream Theater. Ballad berdurasi lima menit ini lebih mengedepankan harmonisasi dan mudah untuk dinyanyikan. Lagu ini bernuansa seperti lagu “Vacant” di album Train Of Thought, sebagai tanda intermission dalam album. Strings pun dihadirkan dalam lagu ini, yang mengiringi chorus yang sangat familiar bagi ol-skool fans DT. Permainan piano Jordan juga sangat apik dimainkan sebelum Petrucci kembali dengan solo gitar ala Brian May di akhir lagu.

“The Shattered Fortress” 12:49 (Mike Portnoy)

Lagu ini merupakan bagian terakhir dari 12 Steps AA Saga, yang secara musikal dan lirik memiliki keterkaitan dengan beberapa lagu di beberapa album sebelumnya. Saga tersebut diawali ketika lagu “The Glass Prison” dari album Six Degrees of Inner Turbulence (2001) dirilis. Kemudian bagian kedua adalah lagu ‘The Dying Soul” di album Train Of Thought (2003), bagian ketiga adalah “The Root of All Evil” dari album Octavarium (2005) dan bagian keempat adalah “Repentance” dari album Systematic Chaos (2007). Bagian kelima ini melanjutkan akhir dari lagu “Repentance” yang melengkapi Saga sebagai sebuah konsep album yang nantinya akan dimainkan secara bersambung. Lagu ini dibuka dengan riff utama dari lagu ini sebelum memasuki teksture lagu-lagu pendahulunya, mulai dari intro, verse dan riff utama gitar. Beberapa riff yang rapat dan teratur dibarengi sekali lagi vokal growling dari Portnoy yang masih berkiblat ala Opeth, dan bisa dijumpai juga riff pembuka lagu “The Root Of All Evil” sebelum memasuki bagian yang lebih symphonic, hampir seperti movie score. Beberapa permainan keyboards mengikuti perubahan nada dasar sebelum akhirnya memasuki clean gitar yang indah. Sebuah suguhan penutup saga yang sangat menarik.

“The Best Of Times” 13:07 (Portnoy)

Lagu ini dibuka dengan permainan piano yang mendayu, sebelum strings mengiringinya. Kemudian memasuki bagian dimana tempo mulai naik dengan riff yang mengingatkan kita akan lagu milik Rush, “Spirit Of Radio”. Dengan melodi yang dominan, dan sounds gitar khas serta permainan keyboards mengingatkan kita akan karya-karya lama DT. Mungkin lagu ini akan banyak diputar oleh para die-hard fans. Tema dari lagu ini adalah bercerita tentang kematian sang ayah, yang meninggal akhir tahun lalu. Akhir dari lagu ini Petrucci mencoba menyuguhkan permainan nada yang njlimet sebelum kembali ke melodi utama lagu tersebut. Cukup membius.

“The Count Of Tuscany” 19:16 (Petrucci)

Nah, lagu ini bisa dibilang monsternya album ini. Sebuah epic, berdurasi lebih dari 19 menit. Dibuka dengan nuansa ala Yes, dilanjutkan dengan permainan riff yang rapat dan cepat. Tipikal lagu panjang ala DT, dengan perubahan tempo dan melodi yang saling bersautan di tiga menit pertama. Riff yang bombastis mulai diperdengarkan selanjutnya, dengan sekian banyak teknik fill-in gitar disuguhkan Petrucci. Lagu ini sedikit mengingatkan akan patern dalam lagu “A Change of Seasons” dan memang dimaksudnya menjadi salah satu classic epic DT. Beberapa menit kemudian, suguhan permainan gitar yang elegan ala Pink Floyd dikombinasi dengan akustik gitar yang manis menutup lagu. Lirik lagu ini menceritakan perjalanan Petrucci ketika berkunjung ke Itali.

Album ini bakal banyak mengundang perdebatan di kalangan die-hard fans DT sehubungan dengan beberapa arah musik yang dicoba dalam album ini. Namun, secara keseluruhan, album ini bisa disejajarkan bahkan lebih tinggi sedikit dibandingkan pendahulunya selama satu dekade ke belakang. Jika dalam album Systematic Chaos mereka mencoba melepaskan keinginan mereka untuk berekspresi lebih, kali ini dalam Black Clouds & Silver Linings mereka mulai menapaki level musikal berikutnya.

A Rite Of Passage (1st Single)

A Rite Of Passage (1st Single)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s