Symphonic Rock

Symphonic Rock

Symphonic Rock

Dua istilah dari dua dunia yang sangat berbeda. Keduanya mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama bersuara ‘keras’. Tapi kemudian menjadi sesuatu yang indah ketika keduanya dipadukan menjadi sebuah istilah, sebuah perpaduan, sebuah kolaborasi, sebuah bentuk musik yang baru saya kenal ketika saya duduk di bangku kuliah. Ya, memang terlambat, tetapi sesuatu yang datangnya terlambat akan menjadi sesuatu yang menarik ketika saya langsung jatuh cinta sama perpaduan ini. Satu sisi, ‘musik klasik’ dan di sisi lain, ‘musik rock’. Di satu sisi Led Zeppelin, Aerosmith, Queen, Guns N’ Roses, Helloween, Metallica, The Stones, Van Halen. Di sisi lain, Johann Sebastian Bach, Ludwiq van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, Fryderyk Franciszek Chopin, Niccolo Paganini, bahkan saya harus berkelana ke Yogyakarta hanya untuk mencari kaset komposisi milih Poitr Ilyich Tchaikovsky, Johannes Brahms dan Jacques Offenbach. Ini terjadi ketika saya memutuskan untuk tidak bermain musik lagi, masa peralihan yang cukup aneh. Seiring dengan berlalunya waktu, saya makin mengagumi penggunaan orkestra dalam berbagai genre musik. Fase selanjutnya adalah new age, yang banyak menyuguhkan komposisi-komposisi klasik tapi dengan nuansa etnis dan modern. Dan akhirnya, perpaduan simfoni orkestra dan musik rock mampir ke telinga saya, kira-kira 4 tahun yang lalu.

Berikut ini beberapa komposisi symphonic rock, baik secara individual maupun secara album menyeluruh, dengan kriteria sebuah karya dengan perpaduan atau kombinasi dari instrumen elektrik dengan salah satu antara woodwinds, strings atau keduanya. (brass sections tidak termasuk di dalamnya, that’s too easy). Contohnya, sebagian besar adalah hard rock dan metal, seperti album Yngwie Johann Malmsteen Concerto Suite For Electric Guitar and Orchestra in E Flat Minor Op. 1, sebuah album kolaborasi bersama Czech Philharmonic Orchestra pimpinan Yoel Levi yang direkam di Prague, yang saya dapat ketika saya sedang gandrung sama yang namanya musik klasik (sebelum album ini saya tidak pernah menyukai Malmsteen). Kemudian masterpiece dari Led Zeppelin dengan mengusung nuansa timur tengah “Kashmir”, dalam album No Quarter: Jimmy Page and Robert Plant Unledded ketika dimainkan dalam perpaduan orkestra barat dengan ensemble timur tengah, sungguh menjadi sebuah atraksi yang berkelas. Lalu, Aerosmith yang pada awal dekade 90’an mengisi acara ulang tahun MTV ke-10, mengaransemen ulang lagu “Dream On” dengan simfoni orkestra pimpinan Michal Kamen, menambah nuansa lagu tersebut menjadi lebih berkelas, saya harus mengakui aransemen brilian dari Kamen, no question. Pada waktu itu, saya juga baru berkenalan dengan sebuah band progressive, Queensryche dengan sebuah nomor ballads “Silent Lucidity” yang diiringi aransemen orkestra. Lagu ini ditulis oleh sang gitaris Chris DeGarmo, dirilis dalam album Empire (1990) dan orkestrasi dikerjakan oleh, sekali lagi, Michael Kamen. Pada bagian akhir lagu ini, kalau diperhatikan, mengusung tema Brahms’s Lullaby karya Johannes Brahms (Johannes Brahms’ Wiegenlied: Guten Abend, gute Nacht, Op. 49, No. 4.). Dan pada waktu mereka membawakan lagu ini di Grammy Awards, mereka tampil full bersama simfoni orkestra, sangat megah!

Lalu, Deep Purple, yang saya tidak begitu menikmati kecuali beberapa lagu saja, ketika saya melihat konser Concerto For Group and Orchestra, I was like.. oh man, this is magnificent! Walaupun mereka pernah melakukannya di akhir dekade 60-an, namun kolaborasi dengan London Symphony Orchestra, pimpinan Mr. Paul Mann kali ini tidak begitu mengecewakan, at least baru kali ini saya bisa menikmati karya Deep Purple lebih dalam. Setidaknya Jon Lord memperkenalkan 3 movements-nya kali ini, dibalut dengan riff-riff bernuansa blues, solo gitar, solo drum dan juga interlude organ. Kemudian sampai pada saat menemukan Deep Purple Live at the Royal Albert Hall dengan tambahan 13 lagu dari band dan solo dari personilnya. Kemudian kolaborasi antara dua formasi Purple yang cukup menarik untuk dinikmati. Aitch McRobbie, Margo Buchanan, Pete Brown, Mario Argandona, Sam Brown, Miller Anderson, Ronnie James Dio, Graham Preskett, Steve Morris, Eddie Hardin, The Kick Horns, dan the Steve Morse Band.

Salah satu lagu Rainbow, “Gates of Babylon” (1978)  dengan nuansa ketimur-tengahan yang cukup kental, mengingat lagu ini tentang sebuah peradaban di Timur Tengah.  Sang produser, Martin Birch, yang kemudian terkenal menangani Iron Maiden, dan dimuat dalam album Long Live Rock ‘n’ Roll (PolyGram).  Ritchie Blackmore (guitar), Ronnie James Dio (vocals), Cozy Powell (drums), BobDaisley (bass), dan David Stone (keyboards).  Rainer Pietsch mengaransemen orkestrasi dan memimpin Bavarian String Ensemble.  Lagu ini kemudian dibawakan ulang oleh Malmsteen dalam album Inspiration (1997).

Setelah Malmsteen, saya bertemu dengan Metallica bersama dengan San Francisco Symphony Orchestra. Ketika saya memainkan lagu-lagu Metallica, saya hanya berkutat dengan tiga album pertama mereka, selebihnya hanya mengagumi …And Justice For All serta black album. Ketika mereka merilis  S&M pada tahun 99, saya bertemu lagi dengan salah satu idola saya Michael Kamen, yang mengaransemen dan berdiri sebagai konduktor. Seperti obat penawar rindu setelah lama tidak mendengarkan Metallica, kolaborasi ini menjadi lebih dahsyat untuk dinikmati. Tak lama setelah itu, Scorpions muncul bersama Berlin Philharmonic Orchestra lewat album Moment of Glory (2000). Sangat menyenangkan bisa mendengarkan versi orkestra dari lagu “Lady Starlight” atau “Send Me An Angel”

Yang terakhir, yang cukup berkesan adalah ketika Dream Theater merilis Score, album memperingati 20 tahun perjalanan karir mereka dengan dukungan Octavarium Orchestra pimpinan Jamshied Sharifi, seorang konduktor keturunan Iran. Yang menarik adalah menikmati secara keseluruhan dari “Six Degrees of Inner Turbulence” dengan aransemen orkestra. Tak ketinggalan, “Octavarium” pun diiringi orkestra. Pertemuan saya dengan album Metal Opera, Avantasia dan Aina, semakin membuat saya lebih menikmati perpaduan dua dunia yang berbeda ini.

Berita terakhir yang saya dengar, bahwa pentolan Deep Purple, Ian Gillan bakal berkolaborasi dengan Prague Philharmonic Orchestra pada tanggal 4 September mendatang di Graefenhainichen, Jerman dan 5 September, di Magdeburg, Jerman untuk sebuah perhelatan klasik karya Purple sebagai bagian dari rangkaian konser “Classics Play Rock”. Dan mungkin suatu hari saya akan mencoba mengekspresikan apa yang ada dibenak saya tentang dua dunia ini ke dalam sebuah komposisi. Mungkin tidak hanya dua dunia, rock dan orkestrasi, tapi juga opera dan konsep album menjadi bagian di dalamnya. Sebuah konsep album opera rockestra. 😉

Iklan