Progressive Rock

Periodisasi Progresif Rock…

Progressive Rock: Golden Era

Progressive Rock

Progressive Rock

Periodisasi era musik rock sendiri sebenarnya tidak ada yang tahu kapan
persisnya, tapi para sejarawan musik rock dan para musisi pada saat itu
percaya bahwa pergerakan progressive rock dimulai setelah The Beatles merilis album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band pada musim gugur tahun 1966. Setelah dirilisnya album ini, mereka mulai meninggalkan aturan dasar yang harus dilakukan oleh sebuah band dalam menciptakan karyanya, entah itu akan menjadi lebih baik atau malah semakin buruk, itu tergantung kepada musisi itu sendiri dan tentunya dengan indikasi apresiasi penggemar masing-masing.

Rasanya baru kemarin, beberapa grup band yang banyak memberikan pengaruh dalam musik rock era 70-an terbentuk (kebanyakan dari daratan Inggris), seperti Jethro Tull (terbentuk di Blackpool oleh Ian Anderson), Jeff Lynne dan Roy Wood yang menggagas Electric Light Orchestra (yang memasukkan string section ke dalam musik rock ‘n roll) atau band asal Manchester, Pink Floyd yang merelease album psychedelic pertama (menurut beberapa musikologis) The Piper at the Gates of Dawn pada tahun 1967.

Meskipun beberapa band yang ada pada waktu itu juga telah berekperimen dalam musik rock, seperti Moody Blues dengan album Days of Futures Passed yang dikomandoi Peter Knight bersama London Symphony Orchestra. Bahkan The Rolling Stones juga mulai memasuki era eksperimen (yang banyak mendapat protes dari penggemarnya) dalam album Their Satanic Majesties Request.
Walau sebagian besar lagu-lagu mereka dikenal lewat air-played radio
memiliki kesamaan texture, bagi mereka yang hanya mendengarkan lewat
radio sebelum era experimentation ini dimulai, tak bisa dipungkiri
bahwa mereka berpikir akan terjadi seleksi alam disini.

Tahun 1969 dipandang sebagai tahun pengukuhan progressive rock
(walau tepatnya tidak ada yang tahu). Tahun ini juga dianggap sebagai
babak baru sekelompok band yang nantinya menjadi pelopor sebuah genre.
Sebut saja Yes yang merilis album pertamanya Time and a Word di tahun 1970 (walau mereka baru dibilang meraih sukses setelah merelease The Yes Album pada tahun 1971), King Crimson merelease In The Court of The Crimson King yang mendapatkan perhatian serius penggemar musik rock dan kritikus musik sebagai sebuah masterpiece yang luar biasa.

Katanya era 1969-1973 dianggap sebagai Golden Era-nya perkembangan
musik rock. Kehadiran Genesis yang dianggap sebagai ’supergrup’
progresif rock pertama, ELP dengan keyboardist Keith Emerson dari band The Nice, bassist Greg Lake dari King Crimson dan Carl Palmer dari band Atomic Rooster, dan tentu saja pada saat itu ada kebijakan baru dari radio FM yang mulai tidak mengindahkan kebijakan ketat yang diterapkan radio AM (yang sebagian besar hanya memutar lagu-lagu pop) untuk lebih membantu pemutaran lagu-lagu dari band progresif rock. Walau tidak dipungkiri bahwa mereka juga membuat gebrakan di radio AM seperti yang dilakukan Yes dengan single “Roundabout” pada tahun 1972 yang
berhasil masuk di jajaran Chart Billboard di Amerika. Genesis lewat
lagu “I Know What I Like (In Your Wardrobe)” berhasil mendominasi radio
AM di tahun 1973 serta Jethro Tull yang sukses di beberapa negara bagian di
Amerika dengan Aqualung di tahun 1971. Di tahun 1973, Pink Floyd merelease The Dark SIde of The Moon yang bertengger di Chart Billboard of Top 200 dan memegang rekor sampai tahun 1987.

Progressive Rock: Epilog 1976

Para punker mulai memperlihatkan atmosphere yang kurang bersahabat dengan band progresif, seperti yang dilakukan oleh Johnny Rotten dari The Sex Pistols yang selalu mengenakan t-shirt bertuliskan “I Hate Pink Floyd” setiap kali mereka mengadakan konser. Pergerakan punker ini pun mulai merubah peta musik dengan dandanan khas mereka yang mulai menyedot para prog-rocker muda era itu (walau ada sebagian yang mulai tenggelam dengan musik disco), yang berakibat menurunnya penjualan album band progresif rock. Sad, huh?

Dari sini mulai kelihatan, bahwa pergerakan ini mulai menuai hasil di
industri musik mainstream. Walau pada tahun 1974 mulai muncul gerakan
anti-gerakan progresif, yang dikenal dengan Pub Rock. Mereka mulai merajai musik di Inggris, dengan musiknya yang keras, glam rock, hard rock dan mulai menggeser progresif rock dari musik mainstream. Band seperti Ducks Deluxe dan Dr. Feelgood contohnya, yang mencoba mengusung pendekatan back to basic, mereka menentang semua tatanan musik yang ada. Gerakan ini akhirnya memberi inspirasi lahirnya generasi baru perkembangan musik, Punk Rock. Jelas sekali punk rock berlawanan 100% dengan apa yang diusung oleh progresif rock dari durasi lagu dan komposisi musiknya. Contoh klasik dari pergerakan ini adalah The Ramones yang merilis debut albumnya Ramones di tahun 1976 (14 lagu hanya dalam durasi 28 menit) kalau dibandingkan dengan album milik Jethro Tull, Thick as A Brick yang bisa berdurasi 50 menit. Terlihat sekali bahwa progresif rock lebih mengutamakan kerumitan dan skema yang melodius. Sedangkan band-band punk hanya butuh 4 chord dan keseluruhan lagu didominasi oleh raungan distorsi gitar.

ELP setelah menuai sukses sebelum munculnya era Punk, bubar di tahun 1978. Peter Gabriel meninggalkan Genesis di tahun 1975 dan memutuskan bersolo karir sementara Genesis dibawah komando Phil Collins mulai meninggalkan formasi progresif menjadi lebih nge-pop (walau alhasil mereka memperoleh sukses besar di tahun 1980-an). Yes, sebagai salah satu band yang sukses mengusung progresif masih bertahan walau harus bubar pada tahun 1980. Mereka bergabung lagi setelah 3 tahun kemudian dengan hit “Owner of a Lonely Heart,” yang seperti Genesis lakukan, lebih mengarah ke musik pop. Grup lain masih bertahan, Jethro Tull merilis J-Tull Dot Com
pada tahun 1999 dan dengan gemilang menyabet Grammy Awards di tahun 1989 mengalahkan Metallica untuk kategori Hard Rock & Heavy Metal. King Crimson reuni di tahun 1994 (sempat bubar ditahun 1975, reuni pada tahun 1981, dan berpisah lagi di tahun 1984) dan merilis album Thrax serta Pink Floyd walau tak pernah lagi mencetak album sekaliber The Dark Side of The Moon, tetap bertahan sebagai salah satu band yang sukses dalam konsernya di industri musik.

Progressive Rock: The Future

Masih adakah yang bertahan? Wajah baru pergerakan progresif rock?
Beberapa band baru mencoba meneruskan pergerakan ini seperti band
prog-metal Dream Theater, Spiritualized, Angra, Queensryche, Epica, Thinking Plague, Pain of Salvation, dan beberapa yang anda semua mungkin lebih kenal), susah untuk menemukan band progresif baru di peta musik dunia kalau referensi kita kepada pergerakan yang dipelopori oleh Genesis, Yes, Van Der Graaf, King Crimson, Pink Floyd, ELP, atau Jethro Tull. Akan tetapi kalau referensi yang kita pakai adalah proses kreatif dalam bermusik, mungkin bisa bejibun band yang bisa ‘dianggap’ membawa bendera progresif (dan anda semua tentu lebih hafal dibandingkan saya).

Lalu apa yang membuat setiap era musik ini sangat spesial? Itu karena setiap
era mengusung struktur musik yang berbeda dari era sebelumnya, mereka
menawarkan sesuatu yang baru sejalan dengan perkembangan apresiasi
musik penggemar musik. Seperti yang pernah dinyatakan oleh sesepuh prog-rock tanah air, “Proses perkembangan musik itu hampir semuanya merupakan suatu proses evolusi, bukan revolusi. Seradikal-radikalnya evolusi, masih tetap berakar dari musik yang sudah ada. Mau ngomong Mozart, Beethoven, Beatles, King Crimson, Thinking Plague, Dream Theater, John Coltrane, BB King, semuanya tidak begitu saja terbentuk, tetapi dikembangkan dari apa yang sudah ada, atau apa yang sudah pernah dibuat sebelumnya.”

Saya juga setuju dengan mas Ajie Wartono (dari prog-rock) yang mengatakan, “Suatu revolusi pun titik tolaknya selalu dari kondisi yang ada sebelumnya, mengenai karya/ide orisinalitas memang susah untuk menilai sesuatu itu orisinil karena ide pasti mempunyai titik tolak dari ide-ide sebelumnya”. Kalaupun warna baru yang diusung oleh mereka tidak mencerminkan apa yang telah mereka kerjakan dahulu, itu karena mereka mengalami proses, mencari format yang sesuai dengan apa yang ada dikepala mereka. Walau banyak penikmat musik kurang apresiatif? Wajar, karena para penikmat musik melihat kembali ke belakang, dan ternyata tidak ada yang baru disitu. Meminjam statemen Bang Win tentang proses kreatif yang mentok, “Mungkin yg kejadian adalah mereka sudah sreg dan  mempertahankan konsistensi corak musik karya mereka, sedangkan para pendengar mengharapkan perkembangan yang lebih advanced… alhasil para penonton kecewa deh.”

Tentang perbedaan warna musik atau arah musik yang dituju sebuah band emang tidak bisa terlepas dari siapa dalang dibalik karya itu.
Untuk kasus Genesis sepeninggal Peter Gabriel, King Crimson yang gonta ganti personel (yang konon kabarnya hanya menyisakan Robert Fripp), atau Dream Theater sepeninggal Kevin Moore adalah contoh nyata, dan sekali lagi seperti bang Win bilang “Dream Theater itu memang dikonsepkan untuk ke arah prog-metal dengan penekanan pada unsur skill dalam mengulik musik secara matematis, yah yang pasti andil 2 pentolan utama di grup tersebut, Mike Portnoy & John Petrucci, dalam membawa corak musik mereka tak bisa dihindari. Pain of Salvation yang lebih banyak mengandalkan estetika dalam komposisi prog-metal mereka, sehingga kesan “space” dan kematangan mengulik komposisi lebih terlihat dibandingkan dengan skill show off plus matematika dalam komposisi Dream Theater”.

Saya mungkin termasuk dalam kelompok yang bosan dengan yang
ada sekarang, saya mendengarkan semua jenis musik, beberapa tahun yang
lalu saya hanya mendengarkan lagu-lagu yang didominasi guitar solo, Led Zeppelin, Aerosmith, Queen, Guns ‘N Roses, Dream Theater, Helloween, The Black Crowes, Skid Row, dan glam rock era 80-an, tapi setelah berulang-ulang dinikmati, ada kebosanan juga disana, saya mencoba balik mendengar kan Yes, Pink Floyd, dan beberapa musik 70an, kembali lagi pada fase bosan, pengen sesuatu yang baru, sampai saya nemu genre New Age (ketemu Peter Gabriel, Trevor Rabin, Vangelis, lagi disini, yang banyak didominasi keyboards, walau tidak sedahsyat para sesepuh art-rock), tapi itulah yang terjadi dalam apresiasi musik. Mungkin beberapa bulan kedepan saya kembali berkutat dengan Brandenburg Concerto? Atau bahkan saya akan mendengarkan Sherina sepanjang hari? Atau bisa jadi saya sedang gandrung dengan musik etnis suku Dayak atau musik gambus dari timur tengah. Bagaimana dengan Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s