Get Deep!

Lebih dalam tentang sebuah fenomena dalam musik rock & metal

Simfoni Orkestra Dalam Musik Rock & Metal

Rockestra

Rockestra

Beberapa contoh telah membuktikan apakah dua kubu yang bertolak belakang ini bisa disatukan dalam sebuah frame yang akan membuat keduanya lebih indah atau malah lebih buruk. Di satu sisi, para rocker, tidak banyak yang bisa membaca note musik, mereka lebih mengandalkan groove dan feel, sedangkan para musisi orkestra bisa membuat kita terkagum-kagum dengan penguasaan instrumen masing-masing saat menyuguhkan sesuatu yang bisa dibilang sangat kompleks, tetapi mereka melakukannya dengan membaca partitur musik. Jadi, untuk menggabungkan keduanya ke dalam sebuah formasi musik bukanlah hal yang gampang, akan tetapi tidak sesulit yang kita kira, jika kita tahu persis komposisi yang akan digarap. Kita tidak bisa secara serampangan melangkah seperti yang digambarkan di sebuah line dalam film Back to the Future, ‘B-flat blues, follow me and watch for changes‘, terus kemudian semuanya akan ‘beres’ ?!

Pertama-tama, yang harus diperhatikan dalam kolaborasi high-profile ini adalah menyimpan ego masing-masing. Disamping mereka cuman punya sekali gladi resik dengan band, seorang komposer harus tahu apa yang diinginkan sebuah band atau apa yang ada di benak mereka tentang orkestra, ketika mengajak berkolaborasi. Komposer akan menterjemahkan keinginan band tersebut ke dalam notasi musik, layaknya seorang pelukis yang akan mewarnai kanvasnya dengan berbagai macam warna, hal itu juga dialami oleh seorang komposer. Ketika dia menciptakan orchestral score dia akan sangat mempertimbangkan apakah penambahan orkestra ini akan membuat lagu tersebut semakin dahsyat atau malah tidak terdengar lebih baik. Krena tidak semua lagu rock bisa diiringi barisan orkestra. Tapi ketika simfoni orkestra menemukan lagu yang cocok, maka hasilnya diluar dugaan, akan menambah nilai lagu tersebut dan tentu saja lebih berkesan.

Sebagai contoh, misalkan, orkestrasi di lagu “Live and Let Die” milik The Wings dibuang, apakah lagu ini akan memberikan dampak yang sama? Atau kita ambil contoh saja, penggunaan orkestra pertama kali dalam sejarah musik pop/rock, yaitu pada tahun 1967 ketika The Beatles merekam lagu  “A Day In The Life” dengan memasukkan unsur orkestra, walau hanya setengah simfoni, ditambah sebuah harmonium, sejenis organ namun harus dibantu dengan memompa dengan kaki yang sangat melelahkan,  namun ketika produksi selesai, terdengar seperti simfoni orkestra lengkap. Apakah akan sama ketika lagu tersebut sama sekali tidak memakai orkestrasi? Dampak-dampak seperti ini yang harus dipahami ketika akan melakukan kolaborasi high-profile ini.

Kemudian contoh lain adalah ketika Deep Purple menggelar Concerto for Group and Orchestra pada tahun 1969 bersama Royal Philharmonic Orchestra. Ini bisa dibilang pertama kali sebuah band tampil konser bersama simfoni orkestra. Sebuah langkah yang cukup berani yang diambil oleh sebuah band rock papan atas ketika itu, dan mendapat publikasi yang sangat signifikan walaupun Ian Gillan dan Ritchie Blackmore tidak begitu senang dengan predikat ‘band yang tampil bersama orkestra’. Keduanya lebih menginginkan sebuah band yang lebih kental nuansa rocknya, ketimbang mengusung aransemen orkestra yang tentu saja dibawa oleh sang pemain organ Jon Lord. Kemudian Jon mencoba mengulang kolaborasi ini ketika merayakan hari jadi ke-30 Deep Purple dengan menggelar konser di Royal Albert Hall bersama London Philharmonic Orchestra. Dengan mengundang semua personil yang pernah bergabung dengan Purple, konser ini tidak mampu mengulang orisinalitas pendahulunya. Tidak terasa greget yang pernah mereka ciptakan diakhir dekade 60an tersebut.

Electric Light Orchestra juga merupakan sebuah contoh kesuksesan kolaborasi tingkat tinggi antara dua dunia yang berbeda pada dekade 70-an namun kali ini mereka mengusung sebagai format tetap. Ketika mereka merilis album keempat mereka yang juga merupakan sebuah konsep album Eldorado, A Symphony yang mendapatkan setifikat gold pertama kalinya, dan mampu menembus top 10 hits US Billboard. Selain itu, album solo mendiang Freddy Mercury, Barcelona (1988) adalah salah satu contoh album yang mengusung orkestrasi. Walau ide awalnya adalah terpilihnya Barcelona sebagai  kota berikutnya yang menggelar ajang Olimpiade, dan keinginan Freddy untuk berkolaborasi dengan salah satu penyanyi opera dari kota Barcelona, yaitu Montserrat Caballé, adalah salah satu bentuk kecintaan Freddy terhadap theater dan opera. Singlenya, “Barcelona” pun dipakai sebagai lagu Olimpiade Barcelona 1992, dan merupakan single kedua dari penyanyi solo yang mampu mencapai puncak tangga lagu di Inggris.

Kemudian yang tidak boleh dilupakan begitu saja adalah kolaborasi yang disuguhkan Jimmy Page dan Robert Plant dalam album No Quarter: Jimmy Page & Robert Plant Unledded yang direkam MTV pada tahun 1994. Mereka menggandeng western ensembel, yang diwakili London Philharmonic Orchestra, dan eastern ensembel yang terdiri dari barisan musisi Mesir dengan alat musik tradisionalnya. Kali ini bukan saja dua dunia yang berbeda, malah tiga dunia. Rock, klasik dan etnis timur tengah. Sebuah kolaborasi yang multi-dahsyat, yang memang mengundang decak kagum dari berbagai belahan dunia. Merekapun kebanjiran tawaran untuk tour keliling dunia. Namun, kolaborasi ini belum terlalu menggugah para musisi rock & metal untuk menggunakan orkestra sebagai salah satu kolaborator.

Penggunaan Simfoni Orkestra mulai terdengar gemanya ketika band heavy metal sekelas Metallica mau mencoba berkolaborasi dengan San Francisco Symphony Orchestra dibawah komposer Michael Kamen pada April 1999 dan direkam dalam album S&M (1999). Kamen beserta staffnya harus membuat lebih dari 100 komposisi untuk dikolaborasikan dalam album tersebut. Hasilnya cukup memuaskan mengingat dua album terdahulu mereka kurang memenuhi hasrat para penggemar Metallica. Sebelumnya, Kamen juga berkolaborasi dengan Metallica untuk lagu “Nothing Else Matters” dan pernah menyarankan untuk mencoba berkolaborasi dengan barisan orkestra. Namun ide awal tersebut pernah tercetus oleh mendiang sang bassis, Cliff Burton. Hampir semua media ternama memuji kolaborasi ini, terutama interpretasi yang disuguhkan Kamen ketika membuktikan bahwa dia siap mengiringi sebuah band heavy metal.

Setelah Metallica, mulai bermunculan kolaborasi band rock & metal dengan barisan orkestra. Scorpions menggandeng Berlin Philharmonic Orchestra pimpinan Christian Kolonovits dengan menggarap album Moment of Glory (2000). Walau mereka mendapatkan kritikan karena mengekor Metallica dengan S&M-nya, namun sebenarnya, ide kolaborasi ini sudah terlontar pada tahun 1995, namun baru terealisasi setelah mereka mendapat kritik atas kegagalan album Eye II Eye. Langkah kolaborasi ini diambil salah satunya untuk mengembalikan reputasi Klaus Maine, Rudolf Schenker dan Mathias Jabs sebagai veteran rock. Dalam perhelatan tersebut mereka menggandeng James Kottak (drum), Zucherro (vokal di lagu “Send Me An Angel”), mantan vokalis Genesis Ray Wilson (vokal di lagu “Big City Nights”)  dan Lynn Liechty (vokal di lagu “Here In My Heart”).

Supergrup KISS pun harus rela terbang ke Australia untuk merekam kolaborasi dengan Melbourne Pilharmonic Orchestra pada Februari 2003. Dengan tidak menyertakan gitaris Ace Frehley dan menggandeng kembali drummer Peter Criss, Gene Simmons, Paul Stanley dan Tommy Thayer menggarap aransemen David Campbell yang sekaligus menjadi konduktor dalam album Kiss Symphony: Alive IV. Para musisi barisan orkestrapun harus memakai make-up yang sama dengan para personil KISS. Pada tahun 2005, grup Collective Soul mengikuti pada pendahulunya dengan berkolaborasi dengan Atlanta Symphony Youth Orchestra untuk album Home dan DVD Home: A Live Concert Recording With The Atlanta Symphony Youth Orchestra yang dirilis setahun berikutnya.

Kemudian dari deretan musisi metal, Dream Theater, salah satu pioneer progressive metal, merilis Score dengan menggandeng barisan simfoni The Octavarium Orchestra dibawah konduktor Jamshied Sharifi. Perhelatan yang digelar pada 1 April 2006 di Radio City Hall, New York ini adalah penutup rangkaian tour album Octavarium sekaligus memperingati 20 tahun perjalanan musik mereka. Nama album Score pun dipilih karena artinya adalah duapuluh. Ini adalah salah satu strategi yang mungkin banyak dipakai band rock & metal ketika memperingati hari jadinya. Menyuguhkan sesuatu yang spesial dan berkelas, dan simfoni orkestra adalah pilihan yang paling tepat. Salah satu pioneer power metal, Helloween, juga sedang menggarap album terbaru untuk memperingati 25 tahun mereka berkarir, Helloween’s FILMharmonic Orchestra and Choir. Dan kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka telah melakukan kolaborasi dengan FILMharmonic Orchestra Prague yang direkam di Dvorak Hall, Rudolfinum pada Oktober 2008 silam. Meskipun para personil Helloween menolak untuk memberikan keterangan detail sampai dirilisnya album ini, dalam kolaborasi tersebut nama gitaris Sascha Gerstner dan bassis Markus Grosskopf terdarfar sebagai komposer. Album ini rencananya akan dirilis pada musim gugur mendatang.

Contoh lain adalah, Arjen Anthony Lucassen, yang juga menggawangi beberapa proyek simfoni metal, seperti Ayreon, Ambeon, Star One, Stream of Passion, yang banyak menggunakan vokalis wanita dan tema opera klasik yang menyuguhkan kesan sebuah simfoni. Karakter musik yang disuguhkan merupakan perpaduan dari gothic metal, power metal dan musik klasik. Peranan keyboards dalam symphonic metal adalah sangat vital. Bahkan dalam konser live, mereka harus menggunakan barisan orkestra untuk sekedar menginterpretasikan aransemen keyboards dalam album yang kompleks dan multi-struktur. Therion, dianggap pelopor symphonic metal setelah meninggalkan death metal. Kemudian muncul Nightwish dan Within Temptation pada tahun 1997 dengan merilis debut mereka, meneruskan tradisi yang dirintis oleh Therion. Within Temptation dengan Enter menyuguhkan aspek yang lebih sederhana dari symphonic metal, dengan lebih memfokuskan kepada olah vokal Sharon Den Adel, dan optimalisasi keyboard dalam koridor gothic metal. Nightwish kurang lebih mengusung hal yang sama, mereka berangkat dari power metal, tetapi dengan vokal wanita dan pengaruh klasik yang kental pada aransemen keyboardnya. Di album ketiga, The Silent Force (2004) mereka mengusung simfoni orkestra lengkap beserta paduan suara terdiri dari 80 penyanyi, dan mencapai sukses yang luar biasa di Eropa. Mereka pun mendapatkan predikat “the world of heavy guitars and female vocals” to “a mainstream audience”.

Memasuki dekade 2000, bermunculanlah deretan band symphonic metal seperti Rain Fell Within, After Forever, Epica, dan Edenbridge. Fenomena ini juga mempercepat berkembangnya simfoni di kalangan musik metal. Semua subgenre metalpun mulai memasukkan simfoni ke dalam sebagian karya mereka. Sebut saja dari barisan black metal Emperor, Thy Serpent, Cradle of Filth, Anorexia Nervosa, dan Dimmu Borgir. Kemudian dari barisan power metal, selain Nightwish dan After Forever adalah Rhapsody of Fire, Kamelot, Visions of Atlantis dan Grave Digger. Barisan gothic metal selain Within Temptation adalah Paradise Lost, Anathema dan My Dying Bride.

Dibarisan lain ada vokalis Edguy, Tobias Sammet dengan proyek metal opera-nya, Avantasia. Proyek yang dirintis sejak tahun 2000 ini telah menghasilkan 3 album, Metal Opera Part 1 (2000), Metal Opera Part 2 (2002), dan The Scarecrow (2008) serta 2 Ep Lost in Space (2007). Dengan menggabung dua kata avalon dan fantasia,  Tobi ingin mengusung konsep ‘kisah sebuah dunia diluar jangkauan imaginasi manusia’. Proyek pertama ini menghadirkan sederetan musisi tamu yang sudah punya nama di dunia musik metal seperti gitaris Henjo Richter (Gamma Ray), bassis Markus Grosskopf (Helloween) dan drummer Alex Holzwarth (Rhapsody of Fire). Sedangkan dibarisan vokal ada Michael Kiske (ex-Helloween), Andre Matos (ex Angra), Kai Hansen (Gamma Ray), Timo Tolkki (ex Stratovarius), Oliver Hartmann (ex At Vance), Sharon Den Adel (Within Temptation), dan masih banyak lagi. Di proyek kedua, tidak banyak terjadi pergantian, hanya drummer Eric Singer (Kiss, Black Sabbath, Alice Cooper) bergabung, kemudian Tolkki menyumbangkan gitar dan Bob Catley (Magnum) ikut mengisi vokal. Untuk proyek ketiga, di barisan musisi hanya menyisakan Eric Singer, sedangkan gitar dihandle produser dan gitaris handal Sascha Paeth. Sedangkan aransemen orkestra diserahkan kepada Michael ‘Miro’ Rodenberg. Henjo dan Kai hanya sebagai gitaris tamu di beberapa lagu, dan Rudolf Schenker (Scorpions) juga hadir disana. Di barisan vokal masih menyisakan Michael Kiske, Rob Catley, Oliver Hartmann, dengan tambahan hadirnya Roy Kahn (Kamelot), Alice Cooper, Jorn Lande (ex Masterplan) dan Amanda Somerville (konseptor dan penulis lirik Aina).

Aina tidak jauh berbeda dengan konsep Avantasia, hanya musik yang diusung lebih progresif, dengan mastermind Sascha Paeth, Miro, Robert Hunecke-Rizzo dan Amanda Somerville. Barisan musisi ada Derek Sherenian (ex Dream Theater), Jens Johansson (Stratovarius), T.M. Stevens (Steve Vai), Erik Norlander (Ayreon) dan masih banyak lagi. Sederetan vokalis juga terlibat dalam proyek yang dikasih judul Days of Rising Doom (2003), adalah Glenn Hughes (Deep Purple, Black Sabbath), Michael Kiske, Andre Matos, Tobias Sammet, Candice Night (Blackmore’s Night), Marco Hietala (Nightwish), Simone Simons (Epica), Thomas Rettke (Heaven’s Gate) dan masih banyak lagi. Kesuksesan Avantasia dan Aina ini juga menginspirasi banyak musisi membuat proyek sejenis, Revolution Renaissance, proyek dari mantan gitaris Stratovarius Timo Tolkki, adalah salah satunya. Dan kabar terakhir menyatakan bahwa Avantasia akan direkam secara live untuk DVD Avantasia beserta barisan simfoni orkestra pada Juli 2009 di sebuah festival musim panas di Czech. Dan untuk album terbaru Avantasia tengah dipersiapkan oleh produser, engineer sekaligus gitaris Sascha Paeth dengan mengusung barisan simfoni orkestra. Tobi berjanji bahwa album ini akan digarap secara spesial, bombastis dan fenomenal secara produksi. Kita tunggu saja!

Konsep menggandeng barisan simfoni orkestra ternyata tidak menjadi dominasi musisi progresif rock dan metal, Muse, band yang mengusung rock alternatif ini sangat dikenal karena aksi panggungnya yang fantastis secara visual. Komposisi yang disuguhkan menjadikan mereka band baru yang banyak dihormati oleh para pendahulunya. Kabar terbaru dari band asal Devon, Inggris ini adalah mereka sedang mengerjakan album kelima, dan akan berkolaborasi dengan barisan orkestra untuk sebuah lagu berdurasi 15 menit dan akan dibagi menjadi tiga bagian. Dalam album ini, Matt Bellamy menegaskan bahwa mereka menawarkan sesuatu yang lebih klasik dibanding karya mereka sebelumnya. Mungkin ini salah satu efek dari Matt yang sekarang tinggal di Italia dan lebih banyak bersosialisasi dengan theater dan opera.

High-profile collaboration results endless time masterpiece.

Artikel Lain:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s